
KOTA MALANG – malangpagi.com
Proses revitalisasi Pasar Tawangmangu terus dikebut Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dengan dukungan DPRD Kota Malang. Saat ini, pengajuan pendanaan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tengah dikawal setelah dokumen perencanaan rampung disusun.
Ketua Komisi B DPRD Kota Malang, Bayu Rekso Aji menyampaikan bahwa Pasar Tawangmangu menjadi salah satu pasar yang belum tersentuh revitalisasi selama puluhan tahun.
“Pasar Tawangmangu ini bisa dibilang satu-satunya pasar yang bekerja sama dengan pihak ketiga dan belum direvitalisasi. Yang lain sudah, rata-rata sudah hampir 40 tahun,” ujar Bayu.
Bayu menjelaskan bahwa DPRD Kota Malang intens berkomunikasi dengan serta pedagang Pasar Tawangmangu serta Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang. Pada APBD Perubahan 2025, Komisi B mendorong penganggaran penyusunan Detail Engineering Design (DED) sebagai tahapan awal revitalisasi.
“DED itu wajib secara teknis. Alhamdulillah, DED-nya sudah jadi pada Desember kemarin. Setelah itu kami sepakat mengajukan revitalisasi ini ke pemerintah pusat karena keterbatasan APBD dan minimnya transfer ke daerah,” jelasnya.
Bayu menyebut, Pemkot Malang bersama DPRD telah membawa langsung proposal dan DED revitalisasi Pasar Tawangmangu ke Kementerian Perdagangan. Momentum pengajuan tersebut dinilai tepat, lantaran usulan daerah disampaikan langsung ke Presiden melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri.
“Momentumnya pas. Hari itu juga Dirjen menyampaikan ada usulan dari beberapa daerah yang akan dibawa ke Presiden. Harapannya ini bisa masuk, paling lambat 2027, tapi mudah-mudahan bisa terealisasi di 2026,” ungkap Bayu.
Berdasarkan DED, nilai anggaran revitalisasi Pasar Tawangmangu yang diusulkan ke APBN mencapai sekitar Rp35 miliar.
Bayu menilai Pasar Tawangmangu sudah tidak layak dan membutuhkan penataan menyeluruh. Mulai dari atap bocor, saluran drainase yang rusak, hingga kesan kumuh yang membuat pengunjung enggan masuk ke area pasar.
“Banyak bocoran, gorong-gorong perlu diperbaiki, pembeli akhirnya malas masuk. Akhirnya pedagang juga banyak yang keluar dan muncul PKL di luar,” katanya.
Melalui revitalisasi, pasar akan ditata ulang agar pedagang di luar bisa kembali masuk dan aktivitas jual beli lebih tertib. Konsep penataan nantinya mengadopsi pasar-pasar yang telah sukses direvitalisasi seperti Pasar Oro-oro Dowo dan Pasar Klojen.
Lebih lanjut, Bayu menegaskan bahwa keberadaan kafe dan usaha kopi di kawasan Pasar Tawangmangu tidak akan dihilangkan.
“Bukan dihilangkan, tetap dipertahankan. Seperti Oro-oro Dowo dan Klojen itu kan story-nya bagus. Di Tawangmangu ini juga sudah punya modal itu,” ujarnya.
Respon pedagang terhadap rencana revitalisasi pun dinilai positif. Bayu mengaku telah berkomunikasi langsung dengan paguyuban pedagang dan mayoritas menyambut baik rencana tersebut.
“Mereka sangat berharap pasar ini direvitalisasi. Sudah hampir 40 tahun tidak tersentuh pembangunan. Sebagian besar mendukung, meskipun pasti ada satu dua yang berbeda pendapat,” tuturnya.
Saat ini jumlah pedagang Pasar Tawangmangu diperkirakan hanya ratusan, dengan banyak lapak yang sudah tidak aktif akibat sepinya pembeli.
Bayu berharap revitalisasi nantinya dapat menghidupkan kembali pasar dan meningkatkan kenyamanan pedagang maupun pengunjung.
“Kita doakan dan kawal bersama proses ini di pusat. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi di tahun 2026 ini,” pungkasnya. (YD)















