
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pesatnya perkembangan layanan keuangan digital membuka akses yang semakin luas bagi masyarakat, termasuk mahasiswa, untuk memanfaatkan berbagai produk keuangan seperti pinjaman daring. Namun, kemudahan tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar tidak menimbulkan keputusan finansial yang keliru.
Sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap pengelolaan keuangan, Kredit Pintar bersama Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menggelar program Financial Literacy Series melalui kampanye Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi, di Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (24/6/2026).
Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, mengatakan bahwa kemampuan mengelola keuangan sejak usia muda menjadi bekal penting untuk menghadapi berbagai tantangan finansial di masa depan.
“Pengelolaan keuangan yang baik tidak ditentukan oleh besar kecilnya uang yang dimiliki, melainkan bagaimana seseorang mampu mengalokasikannya secara tepat. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak mahasiswa memahami pentingnya perencanaan keuangan sejak dini sebagai fondasi menuju masa depan yang lebih sejahtera,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan metode pengelolaan keuangan 50/30/20. Melalui metode ini, sebanyak 50 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kebutuhan gaya hidup, dan 20 persen untuk tabungan maupun investasi.
Peserta juga diajak memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, sekaligus membangun kebiasaan mengevaluasi setiap pengeluaran berdasarkan manfaat jangka panjang yang diperoleh.
Selain pengelolaan keuangan, edukasi juga membahas pemanfaatan layanan pinjaman daring secara bertanggung jawab. Mahasiswa diberikan pemahaman bahwa pinjaman digital dapat menjadi solusi untuk kebutuhan produktif, seperti pengembangan usaha, biaya pendidikan, maupun peningkatan keterampilan.
Meski demikian, peserta diingatkan mengenai sejumlah risiko yang perlu diperhatikan, mulai dari beban bunga dan biaya tambahan, potensi utang berlebih, hingga penyalahgunaan data pribadi pada layanan ilegal. Karena itu, masyarakat diminta memastikan layanan yang digunakan telah terdaftar dan diawasi oleh OJK.
Puji menambahkan, kebiasaan finansial yang sehat tidak berarti menghindari seluruh pengeluaran, melainkan mampu menentukan prioritas dengan tepat dan konsisten.
“Kebiasaan kecil yang dilakukan secara berkelanjutan dapat memberikan dampak besar bagi kondisi keuangan seseorang di masa depan. Sebagai teman bertumbuh, Kredit Pintar berkomitmen mendukung perjalanan finansial generasi muda Indonesia,” katanya.
Melalui program edukasi berkelanjutan seperti Pindar Mengajar, Kredit Pintar berharap mahasiswa tidak hanya menjadi pengguna layanan keuangan digital, tetapi juga mampu memahami risiko, mengelola keuangan secara bijak, serta memanfaatkan peluang finansial untuk membangun masa depan yang lebih mandiri dan produktif.
Saat ini Kredit Pintar telah diunduh lebih dari 36 juta kali dengan rating 4,3 di Google Play Store dan 4,4 di Apple App Store. Sepanjang tahun 2025, perusahaan mencatat penyaluran pinjaman lebih dari Rp9,5 triliun. Sementara sejak berdiri pada 2017, total akumulasi pinjaman yang disalurkan telah melampaui Rp64 triliun. (YD)












