
KOTA MALANG – malangpagi.com
Dalam upaya memberikan edukasi mengenai mekanisme hewan yang layak dikurbankan saat Iduladha 1443 H, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang menggelar sosialisasi Penanganan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Kegiatan yang diikuti sekitar 250 peserta tersebut diselenggarakan di Aula Kantor PDM Kota Malang, Jalan Gajayana No. 28B Kota Malang.
Menurut Ketua PDM Kota Malang, Abdul Haris, kegiatan sosialisasi ini penting untuk dipahami bersama, karena ibadah harus tetap memperhatikan keamanan dan kesehatan. “Ini yang harus kita jaga. Jangan sampai setelah kita berkurban malah menimbulkan korban,” ujarnya.
Selanjutnya, Prof. Dr. drh. Lili Zalizar selaku narasumber dari Universitas Muhammadiyah Malang memaparkan mengenai PMK. “Penyakit Mulut dan Kuku ini disebabkan oleh virus tipe A dari keluarga Picornaviridae, genus Aphthovirus yaitu Afta Epizootica, yang menyebabkan lepuh dan erosi pada lidah dan selaput lendir mulut. Sehingga sapi tidak mau makan yang berakibat penurunan bobot berat badan,” paparnya.
Selain itu, PMK juga ditandai dengan lepuh dan erosi pada jaringan di antara kuku, sehingga ternak malas berdiri. Tanda PMK lainnya juga menyerang kelenjar susu. “PMK ini bisa menular pada hewan ternak lain melalui air liur, sisa pakan, dan melalui udara. Namun positifnya, virus ini tidak berbahaya bagi manusia,” beber Dokter Lili.
Meskipun begitu, menurut Dokter Lili kondisi hewan ternak sebelum penyembelihan (ante mortem) harus diperhatikan. Meliputi kondisi psikis ternak dengan menghindarkan dari stres, serta angkutan yang layak dan tidak kelebihan muatan.
Pihaknya pun membeberkan kiat aman dan sehat ketika berkurban di masa merebaknya PMK. Yaitu dengan membeli ternak yang sehat dan tidak cacat, cukup umur, dan hindari membeli hewan kurban dari zona merah (Malang Barat).
Bagi para panitia kurban, Dokter Lili berpesan tidak mencuci jerohan hewan kurban di sungai, juga membatasi jumlah warga yang hadir saat penyembelihan, dan tempat pemotongan hewan sebaiknya disiram dengan disinfektan. “Terpenting, pastikan tempat penyembelihan tidak menjadi tempat penularan ternak lain di wilayah sekitarnya,” tandasnya.
Hal senada disampaikan Kabid Peternakan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, drh. Anton Pramujiono. Menurutnya, PMK merupakan penyakit yang sangat menular dan menyerang semua hewan berkuku belah atau genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, dan domba. Penyakit ini memiliki masa inkubasi satu hingga 14 hari, serta penularannya melalui kontak langsung maupun tidak langsung dan melalui udara.
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Peternakan dan Pertanian Kota Malang, tercatat sebanyak 400 kasus PMK dengan 145 ekor di antaranya sembuh, 160 ekor dipotong, dan 3 ekor mati. Sisanya saat ini sedang dalam pengobatan.
Untuk meminimalisir penyebaran PMK, Pemerintah Kota Malang mendapatkan jatah 300 dosis vaksin. “Jadi kita kemarin mendapatkan jatah vaksin sebanyak 300 dosis, dan sudah kami suntikkan 199 dosis,” ungkap Dokter Anton.
“101 dosis sisanya insyaallah minggu depan kami suntikkan. Namun kan kami harus mendata dulu peternak-peternak ini. Karena prioritas vaksinasi adalah sapi perah kemudian sapi potong yang betina dan pedet (anak sapi),” lanjutnya.
Melalui sosialisasi ini, pihaknya berharap segala edukasi mengenai PMK dapat tersampaikan, termasuk informasi bahwa penyakit ini tidak menular pada manusia. “Endingnya nanti, saat Hari Raya Iduladha daging hewan kurban aman dikonsumsi masyarakat,” tandas Dokter Anton. (Har/MAS)