
KOTA MALANG – malangpagi.com
Puluhan stan beratap jerami yang menyajikan aneka jajanan lawas berderet di gang Kampung Selorejo, tepatnya di RT 02 RW 15 Kelurahan Lowokwaru, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Selasa (9/8/2022).
Aneka kudapan yang tersaji bernuansa tempo dulu, seakan mengajak pengunjung untuk bernostalgia. Kuliner khas seperti ongol-ongol, wedang uwuh, karak (nasi yang dikeringkan dan digoreng), emput, dan masih banyak lagi makanan yang terdengar asing saat ini.
Emput, salah satu jajanan jadul yang kini jarang ditemui, bahkan banyak yang tidak mengenal, dijajakan oleh Susiami. Kepada Malang Pagi, perempuan 69 tahun itu mengatakan bahwa emput sudah jarang ditemukan pasar tradisional.
Susiami mengaku sengaja menjual emput sebagai bentuk edukasi kepada anak-anak, agar mengetahui aneka jenis makanan tempo dulu. “Ini namanya emput. Bahannya dari jagung yang ditumbuk halus. Kalau orang tua dulu cara memasaknya dinamakan penanangan. Tapi kalau sekarang itu disangrai. Jadi tidak pakai minyak, dan ini adalah makanan tempo dulu. Khasnya orang tua-tua,” jelasnya.
Menurutnya, banyak anak-anak yang menanyakan, apakah emput itu? “Emput apa sih? Tanya mereka. Saya kasih sendok, terus saya suruh coba dulu. Saya beritahu kalau makan emput ini jangan makan banyak. Kalau makan banyak akan keluar. Keselek,” tuturnya.
Bagi Susiami, edukasi kepada anak-anak sangat penting. Karena pada zaman dulu, saat dirinya masih bersekolah di Sekolah Rakyat (SR), emput merupakan salah satu jajanan favorit anak-anak kala itu. “Jadi dulu ada emput, es gandol, dan karak. Sajian kuliner ini dapat mengembalikan memori perjuangan dan masa kemerdekaan,” ucapnya. “Semoga dengan bazar ini, makanan tradisional akan tetap lestari,” lanjut Susiami.

Ditemui di tempat yang sama, Hari Novianto selaku Ketua RT 02 RW 15 Kelurahan Lowokwaru mengungkapkan, konsep bazar yang mengusung tema tempo dulu adalah untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme dan tetap mengenang akan peristiwa sejarah.
“Jadi konsepnya kembali ke tempo dulu. Selain menanamkan jiwa nasionalisme, kami juga mengenalkan makanan tempo dulu yang sekarang mulai punah. Seperti wedang uwuh, emput, krawu, karak, dan ongol-ongol,” bebernya.
Hal senada disampaikan Ketua RW 15 Kelurahan Lowokwaru, Siswanto. Menurutnya, konsep mengangkat Kampung Jadul adalah untuk mengenang jasa para pahlawan.
Pria yang kerap disapa Sis itu menyampaikan, bazar tempo dulu yang diusung RW 15 Kelurahan Lowokwaru memiliki makna penting. Yaitu agar anak-anak generasi penerus bangsa dapat memahami kondisi pada masa zaman sebelum kemerdekaan.
“Bahwa kondisi zaman dahulu itu persis meskipun tidak sama. Dalam gelaran ini, kita dapat mengingat situasi zaman dahulu, dan para generasi muda juga dapat mempelajari sejarah. Salah satunya melalui jajanan lawas ini,” terang Sis.
Baginya, sejarah sangat penting untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui makanan yang sudah jarang ditemui, anak-anak dapat memahami bagaimana situasi pada masa itu, serta dapat belajar untuk mencintai produk dalam negeri.
“Harapan kami, gelaran bazar ini dapat meningkatkan motivasi dan inovasi. Jaga persatuan, kekompakan, dan untuk tetap melestarikan apa yang menjadi sejarah. Jas Merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” pesan Siswanto. (Har/MAS)















