
KOTA MALANG – malangpagi.com
Terkait beredarnya berita yang menyebut bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) berfatwa untuk menggantikan kurban dengan sembako, saat terjadi wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan ternak, Ketua MUI Kota Malang, KH Baidowi Muslich menegaskan bahwa maksud pernyataan tersebut adalah hanya berlaku pada saat darurat terjadi wabah penyakit.
“Dengan terjadinya wabah penyakit mulut dan kuku yang menyerang ternak sapi, maka kami memutuskan bagi mereka yang ingin berkurban namun tidak ada daging, silakan membeli sembako dan kemudian diberikan kepada fakir miskin. Insyaallah amalnya sama,” jelas KH Baidowi Muslich, ditemui usai acara Halalbihalal MUI Kota Malang di Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang, Jalan Raya Candi III No. 454 Kelurahan Karangbesuki, Kota Malang, Sabtu (18/6/2022).
“Namun, bukan berarti sedekah ini adalah pengganti kurban. Kalau kurban tidak boleh diganti. Dari pernyataan saya ini, semoga masyarakat dapat lebih paham,” lanjutnya.
Kyai sepuh yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren Anwarul Huda itu pun memaparkan, memang ada fatwa MUI Pusat yang mengatakan bahwa untuk sapi-sapi yang memiliki gejala PMK ringan boleh secara hukum untuk menjadi hewan kurban.
“Jadi kalau gejalanya berat, itu yang tidak boleh. Karena hewan kurban harus sehat dan tidak boleh ada cacat apapun. Untuk itu, sapi yang gejalanya tidak terlalu berat diperbolehkan, karena situasinya seperti ini,” terangnya.

Hal senada juga diungkapkan Walikota Malang, Sutiaji. “Namanya kurban ya harus hewan kurban. Karena di sana ada proses penyembelihan,” ujarnya. “Nanti kami minta MUI untuk bersinergi dengan DMI (Dewan Masjid Indonesia) dalam mensosialisasikan tentang PMK,” imbuh pejabat asal Lamongan itu.
“Insyaallah, Senin nanti kami akan mengumpulkan pihak-pihak terkait termasuk takmir masjid, dalam kaitannya adanya wabah PMK menjelang Iduladha. Akan kami berikan arahan dan sosialisasi terkait hal-hal yang boleh dan tidak boleh,” tegasnya.
Orang nomor satu di Kota Malang itu pun mengatakan, Pemkot Malang telah menyiapkan satgas dalam penanganan PMK. Dirinya menyebut, hingga saat ini sapi yang terpapar PMK sekitar 200 ekor, dengan tingkat kesembuhan mencapai lebih dari 100 ekor sapi, serta yang mati hanya satu ekor. “Untuk itu, kami imbau masyarakat tidak terlalu cemas berlebihan akan adanya wabah PMK ini,” tandas Sutiaji. (Har/MAS)