
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terus memperkuat upaya konservasi air tanah dan mengurangi risiko banjir melalui pembangunan sumur injeksi. Keterlibatan dunia usaha juga didorong agar upaya pelestarian lingkungan tersebut dapat berjalan lebih luas dan berkelanjutan.
Salah satu bentuk kontribusi sektor swasta diwujudkan PT HM Sampoerna Tbk melalui SKT Plant Malang yang membangun lima sumur injeksi menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).
Keberadaan lima sumur injeksi tersebut ditinjau langsung Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Dandung Julhardjanto, bersama Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRPKP Kota Malang, Ade Herawanto, Manager Hand Rolled PT HM Sampoerna Tbk SKT Plant Malang, Arinto Brata, Camat Blimbing, serta Lurah Purwantoro dan Lurah Purwodadi, Selasa (20/10/2026).
Dandung menyampaikan apresiasi kepada PT HM Sampoerna Tbk yang telah berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di Kelurahan Purwantoro yang masih kerap mengalami genangan air.
“Atas nama Pemerintah Kota Malang, saya menyampaikan terima kasih atas bantuan CSR PT HM Sampoerna yang peduli terhadap masyarakat, khususnya di Kelurahan Purwantoro. Kepedulian ini diwujudkan melalui pengelolaan lingkungan, mengingat Purwantoro masih menjadi salah satu wilayah yang kerap mengalami genangan air,” ujar Dandung.
Menurutnya, keterbatasan pembangunan embung sebagai tempat penampungan air menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Pemkot Malang. Karena itu, sumur injeksi menjadi alternatif untuk membantu mengurangi genangan sekaligus menjaga ketersediaan cadangan air tanah.
Dandung mengatakan, penerapan konsep sumur injeksi yang dikembangkan Prof. Bisri terus didorong sebagai bagian dari upaya mengatasi persoalan genangan di kawasan perkotaan.
“Kami berterima kasih karena PT HM Sampoerna masih konsisten membangun sumur injeksi. Saat ini, di Kota Malang sudah terdapat lebih dari 479 sumur injeksi yang tersebar di lima wilayah,” ungkapnya.
Sementara itu, Prof. Bisri menjelaskan bahwa sumur injeksi memiliki sejumlah manfaat bagi lingkungan. Selain menambah cadangan air tanah, infrastruktur tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko penurunan permukaan tanah, menekan intrusi air laut di wilayah rentan, serta mengurangi genangan air.
Peningkatan cadangan air tanah juga dinilai berkontribusi terhadap keseimbangan lingkungan melalui proses penguapan alami.
“Setidaknya ada lima hal penting dari pembangunan sumur injeksi. Pertama, menambah cadangan air tanah. Kedua, membantu mengurangi amblesan tanah. Ketiga, menghambat intrusi air laut. Keempat, mengurangi genangan air. Kelima, mendukung keseimbangan lingkungan melalui proses penguapan,” jelas Prof. Bisri.
Ia menilai, jumlah sumur injeksi yang tersedia di Kota Malang saat ini masih perlu ditambah.
“Idealnya, Kota Malang memiliki sekitar 1.000 sumur injeksi untuk mendukung konservasi air tanah dan pengendalian genangan,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRPKP Kota Malang, Ade Herawanto, mengungkapkan bahwa Pemkot Malang tengah menginisiasi penyusunan rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang konservasi sumber daya air dan pengurangan risiko banjir.
Meski regulasi tersebut masih dalam proses penyusunan, Ade menyebut pemerintah daerah telah menjalankan langkah konkret melalui pembangunan ratusan sumur injeksi menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2025 dan 2026.
“Sebelum Perda tersebut disahkan dan diundangkan dalam lembaran daerah, kami sudah lebih dahulu melakukan langkah-langkah konservasi sumber daya air dan pengurangan risiko banjir. Kami telah membuat prototipe dan membangun 479 sumur injeksi di Kota Malang melalui APBD,” jelas Ade.
Ia pun mengajak kalangan dunia usaha untuk mengambil bagian dalam pelestarian lingkungan, antara lain dengan mengalokasikan dana CSR bagi pembangunan sumur injeksi serta mengurangi penggunaan air tanah.
Menurut Ade, keterlibatan sektor swasta diperlukan agar upaya konservasi air dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan memberikan dampak berkelanjutan bagi lingkungan.
“Masih banyak perusahaan yang kami imbau untuk mengalokasikan CSR bagi upaya pelestarian lingkungan. Mengingat lingkungan ini bukan warisan nenek moyang kita, melainkan titipan untuk anak cucu kita,” tegasnya.
Selain mendorong pembangunan sumur injeksi, Ade mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pengeboran air tanah secara sembarangan.
“Imbauan ini terutama ditujukan kepada pelaku usaha, seperti pabrik, hotel, restoran, pengelola wisata air, usaha pencucian mobil, hingga pengelola Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) atau Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM),” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa pengambilan air tanah melalui pengeboran harus memenuhi ketentuan perizinan yang berlaku. Secara bertahap, para pengguna air tanah juga diharapkan beralih memanfaatkan layanan air bersih dari Perumda Air Minum Tugu Tirta sebagai alternatif untuk mengurangi tekanan terhadap cadangan air tanah.
Ade berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat melalui pendekatan heksaheliks dapat memperkuat gerakan konservasi air di Kota Malang.
“Melalui kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan segenap lapisan masyarakat, gerakan pembangunan sumur injeksi diharapkan menjadi salah satu langkah terobosan untuk mitigasi banjir dan memperkuat ketahanan lingkungan Kota Malang dalam menghadapi musim penghujan,” serunya. (YD)










