
KOTA MALANG – malangpagi.com
Warga Perumahan Griya Shanta mendorong adanya komunikasi yang lebih transparan terkait polemik jalan tembus. Warga menilai, dialog lintas pihak menjadi kunci agar persoalan tersebut tidak berlarut-larut dan menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Diketahui, polemik pembangunan jalan tembus di Griya Shanta telah bergulir ke ranah hukum dan saat ini masih berada pada tahap mediasi di pengadilan.
Sekretaris RW 12 Kelurahan Mojolangu, M. Nasrul Hamzah, menegaskan bahwa penyelesaian persoalan seharusnya ditempuh melalui jalur komunikasi dan diskusi terbuka. Menurutnya, selama proses hukum masih berada pada tahap mediasi, ruang dialog antar pihak masih sangat memungkinkan untuk dilakukan.
“Tidak ada salahnya semua pihak duduk bersama dan membuka ruang diskusi serta komunikasi. Baik Pemerintah Kota Malang, warga Perumahan Griya Shanta, maupun pemilik lahan yang berbatasan langsung dengan perumahan,” ujar Hamzah, Kamis (15/1/2026).
Hamzah juga mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Malang agar bersikap lebih proaktif dalam menyikapi persoalan tersebut. Ia menilai, pemerintah tidak cukup hanya mencermati polemik jalan tembus semata, namun juga perlu memperhatikan berbagai persoalan lain yang selama ini dirasakan warga Griya Shanta.
Sejumlah persoalan yang kerap dikeluhkan warga di antaranya banjir kiriman serta kepadatan lalu lintas di kawasan Griya Shanta. Kondisi tersebut semakin terasa karena di sekitar perumahan terdapat beberapa sekolah yang memicu peningkatan volume kendaraan, terutama pada jam masuk dan pulang sekolah.
“Kalau nanti ada komunikasi lanjutan, sebaiknya persoalan lain juga dibahas. Banjir kiriman masih sering terjadi, begitu juga kepadatan lalu lintas jalan. Ini tentu menjadi kekhawatiran warga,” jelasnya.
Selain itu, Hamzah menilai komunikasi terbuka juga penting untuk meluruskan berbagai informasi yang berkembang di masyarakat dan dinilai belum jelas. Salah satunya terkait isu adanya rencana pembangunan hunian berskala besar di balik proyek jalan tembus tersebut.
“Saya sempat mendengar informasi bahwa di balik pembangunan jalan tembus ini ada rencana pembangunan hunian dengan konsep tower yang disebut-sebut berkapasitas hingga ratusan ribu orang. Di sisi lain, saya juga menerima informasi bahwa yang dibangun adalah perumahan. Informasi seperti ini perlu diluruskan,” ungkapnya.
Melalui diskusi yang terbuka dan transparan, Hamzah berharap seluruh rencana pembangunan yang disiapkan Pemkot Malang dapat dipahami secara utuh oleh masyarakat, sehingga tidak menimbulkan keresahan maupun spekulasi yang berlebihan.
“Jika komunikasi bisa dijalin lebih terbuka, tentu semua pihak akan merasa lebih tenang dan dipahami,” pungkasnya. (YD)














