
KOTA MALANG – malangpagi.com
Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang menargetkan sebanyak 4.000 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) atau sekitar 10 persen dari total UMKM di Kota Malang dapat naik kelas pada tahun 2026. Target tersebut dipasang seiring peran strategis UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah.
Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi menyampaikan bahwa saat ini jumlah UMKM di Kota Malang mencapai sekitar 40 ribu unit. Dari jumlah tersebut, pihaknya menargetkan peningkatan kapasitas usaha bagi sedikitnya 4.000 UMKM sepanjang 2026.
“Jumlah UMKM di Kota Malang sekitar 40 ribu. Pada 2026 kami menargetkan 10 persennya atau sekitar 4.000 UMKM bisa naik kelas,” ujar Eko, Sabtu (24/1/2026).
Ia menjelaskan, strategi untuk mengejar target tersebut dilakukan dengan melanjutkan pola pembinaan yang sudah berjalan, namun diperkuat melalui pendampingan yang lebih intensif dan terukur. Pada 2026, cakupan pendampingan akan diperluas dengan menyasar 50 hingga 100 UMKM dalam setiap periode pendampingan.
“Selain memperluas jangkauan, tim pendamping juga kami minta memberikan materi pelatihan yang lebih mendalam, terutama terkait pengemasan produk dan strategi pemasaran digital,” jelasnya.
Penguatan pendampingan ini dinilai penting mengingat capaian UMKM naik kelas pada 2025 belum sesuai harapan. Pada tahun tersebut, jumlah UMKM yang berhasil naik kelas tercatat masih sekitar 100 pelaku usaha.
UMKM dikategorikan naik kelas apabila mampu menunjukkan peningkatan kinerja usaha, baik dari sisi omzet tahunan, kelengkapan legalitas usaha, hingga peningkatan kualitas dan daya saing produk.
Selain fokus pada peningkatan kapasitas usaha, Diskopindag Kota Malang juga mendorong UMKM agar mampu menembus pasar ekspor. Sejumlah negara yang menjadi tujuan ekspor UMKM Kota Malang antara lain Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Selandia Baru.
“Hingga 2025, sebanyak 95 UMKM Kota Malang telah menembus pasar internasional dengan komoditas ekspor yang didominasi produk keripik olahan tempe. Jika digabungkan dengan produk lain seperti kriya, nilai ekspor UMKM Kota Malang mencapai sekitar Rp100 miliar,” paparnya.
Pada 2026, Diskopindag menargetkan jumlah UMKM yang melakukan ekspor dapat meningkat hingga 50 persen. Untuk mendukung target tersebut, program klinik ekspor akan terus dimaksimalkan seiring terbukanya peluang pasar dan kerja sama dengan mitra luar negeri.
“Klinik ekspor akan terus kami dorong karena peluang pasar sudah terbuka dan kerja sama dengan luar negeri juga telah terjalin,” pungkasnya. (YD)














