
KABUPATEN MALANG – malangpagi.com
Musisi asal Malang, Duo Etnicholic berhasil menjuarai festival musik internasional. Duet Redy Eko Prastyo dan Anggar Syaf’iah Gusti keluar sebagai pemenang di ajang Sopravista International Festivals di Italia, dalam kategori duet mixed vocal and instrumental.
Duo Etnicholic berhasil menyisihkan 40 peserta lebih dari berbagai penjuru dunia. Melalui lagu berjudul ‘Hijau Lestari’ dengan iringan alat musik Dawai Cempluk, pasangan tersebut akhirnya dinobatkan sebagai pemenang lewat akun Facebook Sopravista, pada 23 Desember 2020 lalu.
Redy mengungkapkan, awalnya Ia mendaftarkan video klip ‘Hijau Lestari’ ke ajang Sopravista International Festivals secara daring akhir November lalu. Video tersebut diunggah pada 7 November 2020 di kanal YouTube iRL Gigs, sebuah kanal yang khusus menampilkan karya-karya musisi non-mainstream dari Malang.
Keduanya mengaku tidak memiliki ekspektasi tinggi untuk masuk nominasi ataupun terpilih sebagai pemenang dalam mengikuti festival musik level international tersebut.

Diluar dugaan Redy dan Anggar, Duo Etnicholic berhasil meraih predikat sebagai 1º Degree Leaureate (Juara Pertama) dalam Nomination Duet: Mixed Vocal and Instrumental, untuk kategori umur 28 tahun ke atas.
Atas penghargaan tersebut, keduanya berkesempatan mengikuti ajang festival di Italia tahun 2021 mendatang. “Ajang ini sekaligus menjadi modal kami dalam mempromosikan instrumen musik dari Kampung Cempluk, yaitu Dawai Cempluk karya Cak Budi Ayin,” ujar Redy.
Menurut Redy, yang merupakan penggagas Kampung Cempluk di Kecamatan Dau Kabupaten Malang, pilihannya memainkan alat musik Dawai Cempluk mengusung misi agar alat musik tersebut dan sekaligus pembuatannya dapat dikenal secara luas oleh masyarakat dunia.
Redy menegaskan, dirinya ingin mengangkat entitas instrumen musik berbasis Kampung Cempluk, tak berbasis suku atau etnis tertentu.
“Kebetulan di Kampung Cempluk ada seorang warga bernama Cak Budi Ayin, yang dalam setahun ini intens membuat sebuah instrumen musik berbasis dawai. Instrumen tersebut kemudian diberi nama Dawai Cempluk. Sebagai tribut kepada nama kampung yg ditempati, yaitu Kampung Cempluk,” paparnya.
Cak Budi ini sebenarnya bukanlah seorang pengrajin alat musik. Ia melakukan berbagai pekerjaan, seperti tukang kayu, tukang cat, dan kuli bangunan. Untuk membuat alat musik ini ini, menurut Redy, Cak Budi belajar secara otodidak melalui YouTube.
“Pembuatannya sederhana. Menggunakan badik, gergaji, palu, dan alat cukil. Tidak ada peralatan modern sama sekali. Semua hand made, manual,” tuturnya.
Dawai Cempluk buatan Cak Budi Ayin saat ini sudah mencapai 30 buah dalam bermacam bentuk. Rencananya, alat musik ini juga akan dipamerkan di Pasar Seni Dewan Kesenian Malang, pada 28 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021 mendatang.
Duo Etnicholic Formasi Baru
Formasi Duo Etnicholic saat ini adalah formasi terbaru. Di mana sebelumnya Redy Eko Prastyo dan Anggar Syaf’iah Gusti tergabung dalam grup Etnicholic Project.
Redy selaku penggagas grup Etnicholic kemudian menginisiasi terbentuknya duo ini untuk program iRL Gigs. Dirinya lantas mengajak Anggar yang merupakan salah satu vokalis Etnicholic Project.
Anggar sendiri adalah seorang guru Seni Budaya di SMA BSS Universitas Brawijaya. Di Duo Etnicholic, Ia bertugas membuat lagu dan lirik yang bisa diterima kaum milenial.
Sebagai guru seni, Anggar bisa dibilang multi talenta. Selain menguasai seni musik, Ia juga mumpuni dalam seni tari dan menggambar, karena memang pendidikannya sebaga Sarjana Pendidikan Seni.
Kolaborasi antar Redy dan Anggar sebenarnya bukan hal baru. Chemistry antarkeduanya di bidang musik sejatinya telah terjalin sejak 2008 silam, lewat kelompok musik Artmochestra Digital Etnik.
Reporter : MA Setiawan
Editor : Redaksi