
KOTA MALANG – malangpagi.com
Bedah novel Api Jihad di Tanah Suriah, bercerita tentang kisah nyata seorang mantan tentara ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) bernama Syahrul Munif yang bertaubat, kali ini diselenggarakan di Rumah Makan Kertanegara Malang, Rabu (30/9/2022).
Karya jurnalis senior Abdul Muntholib setebal 53 halaman tersebut dibuka oleh pengantar dari sejumlah tokoh, dan selanjutnya menceritakan perjalanan Syahrul Munif saat bergabung menjadi tentara ISIS dan melakukan ‘jihad’ di Suriah.
Kegiatan diskusi yang inisiasi Pengurus Cabang Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN-NU) Kota Malang itu dihadiri oleh sejumlah tokoh agama, aktivis, akademisi, masyarakat, dan perwakilan dari beberapa Forkopimda.
Abdul Muntholib menceritakan, Syahrul Munif mengaku pada awalnya diajak ke Suriah guna melakukan misi kemanusiaan. Setelah enam bulan berada sana, Syahrul mengaku ada ketidakcocokan dalam nuraninya terhadap kegiatan ISIS. Sehingga Ia pun mencoba untuk keluar dari Suriah dan kembali pulang ke tanah air.
“Novel ini saya buat saat yang bersangkutan bebas dari tahanan di Nusa Kambangan. Agar generasi berikutnya tidak terjerumus paham radikalisme. Ia [Syahrul Munif] sengaja minta kisahnya ditulis dalam bentuk buku yang sifatnya mengedukasi,” jelas Muntholib.
Meskipun menyadari bahwa minat membacanya generasi saat ini cenderung menurun, namun hal itu tidak menyurutkan niat Abdul Muntholib. Dirinya pun mengaku terus menulis guna meneruskan tradisi para ulama.
“Buku ini sengaja saya kemas dalam bentuk novel supaya enak dibaca. Sehingga nantinya pembaca merasa terlibat langsung di dalam kisah nyata ini. Ke depan juga akan ada filmnya dengan target anak-anak muda, agar mereka mampu meresapi substansi kisah di buku ini,” bebernya.
Dalam kesempatan itu, Syahrul Munif menjelaskan bahwa kepandaian seseorang bukanlah jaminan untuk tidak terpengaruh bahaya radikalisme. Baginya, telah menjadi sebuah kewajiban untuk menyampaikan bahaya gerakan ISIS yang selalu mengafirkan orang-orang di luar golongan mereka.
“Kelompok ISIS sangat militan dalam menyukseskan program mereka dengan iming-iming surga. Ayat-ayat Al Qur’an sering juga dijadikan doktrin untuk mendukung hal tersebut. Mereka juga tak segan-segan memainkan propaganda,” terangnya.
Syahrul mengakui, saat itu pemikirannya bias. Sebelum memutuskan berangkat ke Suriah, Ia merasa tidak ada ladang untuk berjihad di Indonesia. Sehingga waktu itu terbukalah opsi untuk pergi ke Suriah, karena dirinya tidak ingin bersinggungan dengan orang Indonesia. “Ketika saya berangkat ke Suriah, berita tentang ISIS tidak semasif ketika pulang dari sana. Saat itu banyak yang bergabung di angkata saya, begitu juga dari negara-negara lain,” jelasnya.
“Namun akhirnya saya pun memutuskan pulang. Karena keadaan yang diidamkan tak seindah ketika berangkat,” lanjut Syahrul. Saat di ISIS, Ia mengaku selalu mendapat motivasi untuk siap mati dengan jaminan masuk surga.
Baik menulis buku maupun diskusi tentang bahaya radikalisme, dirasa sangat sangat penting oleh Syahrul, karena menurutnya informasi yang mengalir ke masyarakat harus dibentengi.
“Paham radikalisme sangat rentan masuk ke anak- anak yang latar belakang keagamaannya kurang, terutama yang terlalu bersemangat dan terbuka. Artinya, keterbukaan itu kadang bisa membuat kita tergelincir. Maka pada kesempatan kali ini, ingin saya sampaikan kepada generasi muda, ayo melek informasi,” tutupnya.
Sementara itu, Sekretaris PCNU Kota Malang, M Faisol Fatawi mengatakan, perjalanan kisah nyata dalam novel Api Jihad di Tanah Suriah sangatlah penting untuk menjadi sebuah pedoman pembelajaran. “Saya kira perjalanan nyata dan pengalaman mas Syahrul harus kita ambil hikmahnya. Informasi yang utuh seperti ini sangatlah penting,” tuturnya. (DK99/MAS)















