
MALANG – malangpagi.com
Institut Teknologi, Sains, dan Kesehatan (ITSK) RS Dr. Soepraoen Malang ikut mencatatkan sejarah dalam pemecahan Rekor MURI Bantuan Hidup Dasar (BHD) secara serentak se-Indonesia, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan sebanyak 4.028 peserta di wilayah Kota Malang. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3.000 peserta merupakan mahasiswa ITSK RS Dr. Soepraoen, sedangkan sekitar 1.000 peserta lainnya berasal dari 10 SMA dan SMK di Kota Malang.
Rektor ITSK RS Dr. Soepraoen, Brigjen TNI Purn Dr. dr. Sutrisno, S.H., M.A.R.S., M.H.Kes., FISQua mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama saat menghadapi kondisi kegawatdaruratan.
“Kalau ada kecelakaan itu sering meninggal karena kesalahan dari penolong pertama. Penolong pertama itu bukan orang kesehatan, tetapi masyarakat yang berada paling dekat dengan korban,” ujar Sutrisno.
Menurutnya, kemampuan first responder sangat menentukan kondisi korban, mulai dari kemungkinan selamat, mengalami kecacatan hingga meninggal dunia. Kesalahan dalam memindahkan korban kecelakaan, misalnya, justru dapat memperparah kondisi korban.
“Kalau first responder salah menangani, dalam memindahkan pasien saja bisa berakibat fatal. Salah mengangkut pasien juga bisa berakibat fatal,” tegasnya.
Kegiatan tersebut digelar bekerja sama dengan Komunitas Relawan Emergency Kesehatan Indonesia (KREKI). Secara nasional, pemecahan rekor dilakukan secara serentak dengan melibatkan peserta yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Sutrisno menjelaskan, target awal untuk pemecahan rekor secara terpusat sebenarnya mencapai 8.100 peserta. Namun, rekor MURI sebelumnya untuk kegiatan BHD terpusat tercatat sebanyak 3.053 peserta.
“Yang terpecahkan 4.028, jadi ini menjadi rekor MURI baru untuk Bantuan Hidup Dasar,” katanya.
Selain peserta di Kota Malang, kegiatan serentak tersebut juga diikuti masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, peserta dari wilayah Papua disebut mencapai sekitar 1.000 orang.
Di Kota Malang, keterlibatan pelajar menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut. Para pelajar berasal dari 10 SMA dan SMK yang dikoordinasikan oleh Korem.
Sutrisno mengatakan, pelibatan generasi muda bukan tanpa alasan. Pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok yang banyak beraktivitas di luar rumah, termasuk menggunakan sepeda motor, bersepeda maupun melakukan berbagai aktivitas di jalan.
“Dengan banyaknya pelajar dan mahasiswa kita, mereka ini yang aktif di jalanan. Yang lari, yang sepeda, yang kuliah, yang sekolah, banyak berdekatan di jalan,” jelasnya.
Dalam pelatihan BHD, peserta diberikan pemahaman mengenai tindakan yang harus dilakukan ketika menemukan seseorang mengalami henti jantung. Salah satunya melalui pemberian napas bantuan dan pijat jantung atau kompresi dada.
Menurut Sutrisno, ketika seseorang mengalami henti jantung, kondisi tersebut belum selalu berarti korban telah meninggal secara permanen. Tindakan cepat dalam menit-menit awal dapat membantu mempertahankan aliran darah menuju otak dan organ vital.
“Dengan hanya melakukan tindakan yang benar di menit-menit awal, itu menyelamatkan kehidupan,” ujarnya.
Selain henti jantung, peserta juga diberikan pemahaman mengenai cara menangani korban kecelakaan. Hal ini termasuk bagaimana memindahkan korban dengan dugaan cedera leher, patah tulang hingga risiko perdarahan.
Sutrisno mencontohkan korban kecelakaan dengan patah tulang paha yang dapat mengalami perdarahan dalam jumlah besar. Jika korban langsung dipindahkan tanpa penanganan yang tepat, patahan tulang berpotensi memperparah kerusakan pembuluh darah maupun saraf.
“Kalau ada trauma di leher, harus disangga dulu baru diangkat. Kalau patah tulang juga harus difiksasi dulu sebelum diangkat,” jelasnya.

Ia menambahkan, BHD berbeda dengan Bantuan Hidup Lanjut yang umumnya dilakukan oleh tenaga kesehatan. BHD justru menjadi kemampuan dasar yang penting dimiliki masyarakat umum sebelum tenaga medis tiba di lokasi.
Sebab, menurutnya, pertolongan yang benar pada menit-menit pertama dapat menjadi faktor penting dalam menyelamatkan nyawa korban.
“Percuma sebelum datang infus, orang memindahkan pasien tidak benar. Kalau henti jantung, lakukan pijat jantung. Pesannya begitu,” pungkas Sutrisno. (YD)












