Malang Pagi
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Malang Pagi

Peran Ganda Guru Perempuan Jadi Sorotan, Ubaya dan Al-Ya’lu Dorong Ekosistem Pendidikan yang Lebih Sehat

Ketika tuntutan di sekolah terlalu tinggi, hal itu berdampak langsung pada keharmonisan di rumah, begitu pula sebaliknya.

by Red
14 September 2026
in Nasional, Opini, Pendidikan
Bagikan Berita

Ilustrasi tuntutan dua peran guru perempuan. (chatgpt.com / gambar dihasilkan AI)

KOTA MALANG – malangpagi.com

Menjalani profesi sebagai guru sekaligus mengelola kehidupan keluarga bukan perkara sederhana. Bagi banyak guru perempuan, tuntutan dari dua peran tersebut dapat saling berbenturan dan, jika berlangsung terus-menerus, berpotensi menimbulkan tekanan psikologis.

Persoalan itu menjadi fokus penelitian Dr. Gayuk Zulaika, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dari Program Studi Doktor Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Surabaya (Ubaya). Dalam ujian terbuka doktor yang digelar beberapa waktu lalu, Gayuk mempertahankan disertasi berjudul “Model Konflik Kerja-Keluarga Guru SMP Perempuan di Jawa dengan Otonomi Guru sebagai Anteseden dan Kebermaknaan Kerja sebagai Mediator”.

Riset tersebut menambah deretan penelitian yang lahir dari Ubaya, perguruan tinggi swasta berakreditasi Unggul yang memiliki rekam jejak cukup kuat dalam bidang publikasi dan riset. Ubaya tercatat sebagai PTS dengan skor tertinggi dalam Science and Technology Index (SINTA) Kemendikbudristek, sekaligus berada di posisi pertama PTS Jawa Timur dan lima besar PTS nasional versi SCImago Institutions Rankings untuk kinerja penelitian dan inovasi. Kampus ini juga tercatat dalam QS Asia University Rankings dan AppliedHE ASEAN University Rankings.

Dalam penelitiannya, Gayuk melibatkan 707 guru SMP perempuan aktif di Pulau Jawa. Hasilnya menunjukkan bahwa tuntutan pekerjaan dan kehidupan keluarga memiliki hubungan yang kuat. “Berdasarkan penelitian terhadap 707 guru SMP perempuan aktif di Pulau Jawa, terbukti adanya hubungan yang kuat antara beban kerja dan dinamika keluarga. Ketika tuntutan di sekolah terlalu tinggi, hal itu berdampak langsung pada keharmonisan di rumah, begitu pula sebaliknya,” ujar Gayuk saat memaparkan temuannya.

Baca Juga :

Cozy Republic Rilis “Semakin Yoman”, Bawa Cerita Kebersamaan dan Bahagia dari Hal Sederhana

Cozy Republic Rilis “Semakin Yoman”, Bawa Cerita Kebersamaan dan Bahagia dari Hal Sederhana

5 Oktober 2026
Rektor UIBU Pimpin Y37, Bidik Penguatan Alumni dan Perhatian Khusus untuk Mantan Guru

Rektor UIBU Pimpin Y37, Bidik Penguatan Alumni dan Perhatian Khusus untuk Mantan Guru

4 Oktober 2026
4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Serukan Semua Ada di Malang Kecuali Keadilan

4 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Aremania Serukan Semua Ada di Malang Kecuali Keadilan

1 Oktober 2026
Algo Sapiens Mulai Menggeser Homo Sapiens, Saat Manusia Tak Lagi Sadar Pilihan Hidupnya Dibentuk Algoritma

Algo Sapiens Mulai Menggeser Homo Sapiens, Saat Manusia Tak Lagi Sadar Pilihan Hidupnya Dibentuk Algoritma

30 September 2026
Bukan Sekadar Bermain, Begini Cara Orang Tua Membaca Potensi Anak Sejak Dini

Bukan Sekadar Bermain, Begini Cara Orang Tua Membaca Potensi Anak Sejak Dini

30 September 2026
Load More

Para responden memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun, berstatus menikah atau pernah menikah, serta mempunyai anak berusia di bawah 18 tahun yang tinggal serumah dengan orang tua. Fase tersebut menjadi perhatian karena anak masih membutuhkan pendampingan cukup intensif, sementara sang ibu pada saat yang sama juga harus menjalankan tanggung jawab profesional sebagai guru.

Konflik Kerja-Keluarga Tak Bisa Dianggap Sepele

Salah satu persoalan utama yang disoroti dalam penelitian tersebut adalah Work-Family Conflict (WFC) atau konflik kerja-keluarga. Kondisi ini muncul ketika tuntutan pekerjaan mulai menyita waktu kehidupan keluarga, atau sebaliknya, persoalan dalam keluarga mengurangi kemampuan seseorang menjalankan pekerjaannya.

Bagi guru perempuan, situasinya menjadi lebih kompleks karena pekerjaan tidak selalu selesai ketika jam sekolah berakhir. Administrasi, komunikasi dengan sekolah maupun orang tua siswa, hingga berbagai tugas digital dapat ikut terbawa ke rumah.

Karena itu, Gayuk mendorong Dinas Pendidikan dan manajemen sekolah untuk menyusun kebijakan yang lebih adaptif dan proaktif, bukan baru bertindak setelah guru mengalami stres atau kejenuhan kerja. Tujuan akhirnya adalah menjaga kesejahteraan psikologis guru sejak dini.

Salah satu langkah yang direkomendasikan adalah memberikan otonomi mengajar yang lebih besar. Guru perlu mendapatkan ruang untuk menggunakan kreativitas, pengalaman, dan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Kepercayaan tersebut dinilai dapat membantu guru mengoptimalkan potensi siswa dan mencapai target akademik tanpa harus bekerja dalam pola yang terlalu kaku.

Pesan Kerja Tak Harus Datang 24 Jam

Digitalisasi memang membuat komunikasi menjadi lebih cepat dan mudah. Tapi di sisi lain, batas antara waktu kerja dan waktu pribadi juga semakin tipis. Dengan begitu, guru bisa mempunyai waktu tenang bersama keluarga, dan orang tuja juga dapat bekerja sama penuh mendampingi anak di rumah setelah jam sekolah. Tanpa semua pihak terus-menerus merasa terbebani oleh urusan pekerjaan.

Pesan dari grup sekolah, urusan administratif, atau komunikasi kedinasan bisa masuk kapan saja. Bahkan saat malam hari, dini hari, atau saat guru sedang menghabiskan waktu bersama keluarga.

Karena itu, Gayuk juga merekomendasikan adanya  hak untuk disconnect. Yaitu kesepakatan untuk tidak mengirim komunikasi terkait pekerjaan dan urusan administratif digital di luar jam kerja.

Tujuannya bukan memutus komunikasi antara guru, sekolah, dan orang tua murid, melainkan untuk membangun batas yang lebih.

Sekolah juga didorong menyediakan fasilitas yang lebih ramah bagi ibu bekerja, termasuk ruang laktasi dan fasilitas ramah anak. Dukungan semacam ini dapat memberikan rasa lebih tenang bagi guru perempuan saat harus menjalankan peran profesional sekaligus tanggung jawab sebagai orang tua.

Selain dukungan fisik, aspek psikologis tidak kalah penting. Program konseling dan manajemen stres secara berkala dapat membantu mendeteksi tekanan sejak dini sebelum berkembang menjadi burnout atau kejenuhan kerja yang lebih serius.

Bukan Hanya Soal Mengurangi Beban Kerja

Penelitian Gayuk juga menemukan bahwa menjaga kesejahteraan guru bukan semata-mata persoalan mengurangi tugas.

Ada faktor lain yang cukup penting, yaitu kebermaknaan kerja atau meaningfulness of work.

Kebermaknaan kerja ditemukan berperan sebagai mediator yang kuat dalam menjaga motivasi sekaligus meningkatkan resiliensi guru saat menghadapi tekanan.

Atas dasar itu, Dinas Pendidikan dan organisasi profesi didorong secara rutin mengadakan pelatihan psikologis yang membantu guru kembali memahami nilai dari profesi yang mereka jalankan.

“Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum teknis, melainkan profesi mulia yang didasari panggilan jiwa dan nilai pengabdian. Ketika nilai kebermaknaan ini diperkuat secara berkala, guru akan memiliki fondasi psikologis yang jauh lebih kokoh dalam menghadapi tekanan,” tegas Gayuk.

Dengan kata lain, guru yang memahami nilai dan tujuan dari pekerjaannya cenderung memiliki fondasi psikologis yang lebih kuat.

Namun, kebermaknaan kerja tentu tidak boleh diterjemahkan sebagai alasan untuk membiarkan guru menerima beban tanpa batas. Semangat pengabdian tetap perlu diimbangi dengan lingkungan kerja yang sehat, dukungan manajemen sekolah, kesejahteraan hidup serta penghormatan terhadap kehidupan personal.

Kualitas Pendidikan Juga Bergantung pada Kondisi Gurunya

Kesejahteraan guru pada akhirnya tidak hanya berpengaruh terhadap individu yang bersangkutan. Kondisi tersebut juga berkaitan dengan kualitas proses belajar-mengajar di sekolah.

Guru yang memiliki ruang untuk berkembang, kondisi psikologis yang sehat, dan dukungan lingkungan tentu memiliki peluang lebih besar untuk memberikan pendampingan terbaik kepada siswa.

Dalam konteks pendidikan di Malang, perhatian terhadap kualitas proses pendidikan juga tercermin dalam perjalanan Sekolah Unggulan AL-YA’LU. Lembaga pendidikan swasta Islam tersebut selama ini memadukan pencapaian akademik dengan pendidikan spiritual dan pembentukan akhlak, termasuk melalui konsep International Outlook yang diarahkan untuk mempersiapkan siswa menghadapi lingkungan global tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak.

Pada 2026, SMP AL-YA’LU tercatat meraih peringkat pertama Tes Kompetensi Akademik (TKA) SMP/MTs se-Kota Malang. Beberapa tahun sebelumnya, sekolah tersebut juga pernah mencatatkan rata-rata nilai UNBK tertinggi tingkat SMP/MTs swasta secara nasional. Jajaran SD dan SMP-nya turut mencatat capaian dalam Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) Pusat Prestasi Nasional Kemendikdasmen.

Capaian semacam itu menunjukkan bahwa prestasi pendidikan tidak berdiri sendiri. Di balik hasil belajar siswa terdapat ekosistem yang melibatkan guru, manajemen sekolah, orang tua, keluarga, dan masyarakat.

Karena itu, pembicaraan mengenai prestasi sekolah semestinya juga berjalan beriringan dengan perhatian terhadap orang-orang yang bekerja di dalamnya, termasuk kesejahteraan para guru.

Orang Tua Juga Perlu Menghargai Batas Waktu Guru

Upaya mencegah stres pada guru perempuan tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah atau manajemen sekolah.

Masyarakat dan orang tua murid juga memiliki peran. Orang tua tetap perlu berkomunikasi dengan guru dalam mendampingi pendidikan anak, tetapi komunikasi tersebut idealnya dilakukan secara konstruktif dan tetap menghargai waktu personal guru.

Teknologi memungkinkan pesan dikirim kapan saja. Namun, hal itu tidak berarti guru harus selalu tersedia selama 24 jam. Gayuk –bersama Ubaya– karena itu mengajak masyarakat dan lingkungan keluarga ikut membangun ekosistem yang lebih seimbang bagi tenaga pendidik.

Pembagian Peran di Rumah Jadi Kunci

Dukungan paling dekat bagi guru perempuan tetap berasal dari keluarga. Dalam kehidupan domestik, pasangan dan anggota keluarga inti memiliki peran penting dalam membagi tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak.

Penelitian tersebut menekankan pentingnya role sharing atau pembagian peran yang adil di rumah. Pekerjaan domestik tidak semestinya otomatis menjadi tanggung jawab perempuan hanya karena ia seorang ibu. Pembagian tugas yang lebih seimbang dapat mengurangi tekanan setelah guru menyelesaikan pekerjaannya di sekolah.

Pada akhirnya, pencegahan konflik kerja-keluarga membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah dan Dinas Pendidikan dapat menghadirkan kebijakan yang lebih adaptif, sekolah menyediakan lingkungan kerja yang sehat, orang tua membangun pola komunikasi yang proporsional, sedangkan keluarga berbagi tanggung jawab secara lebih adil.

Dengan kesehatan mental yang lebih terjaga, guru perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk memberikan dedikasi terbaik dalam mendampingi tumbuh kembang dan pendidikan generasi berikutnya.

___

Ditulis oleh Ahmad Ahada Angkasa Pura, praktisi pendidikan

Editor: MAS


Bagikan Berita
ADVERTISEMENT

Related Posts

Algo Sapiens Mulai Menggeser Homo Sapiens, Saat Manusia Tak Lagi Sadar Pilihan Hidupnya Dibentuk Algoritma

Algo Sapiens Mulai Menggeser Homo Sapiens, Saat Manusia Tak Lagi Sadar Pilihan Hidupnya Dibentuk Algoritma

30 September 2026

...

Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

25 September 2026

...

HPN 2027, PWI dan JMSI Dorong Pers Makin Profesional dan Berani Lawan Hoaks

HPN 2027, PWI dan JMSI Dorong Pers Makin Profesional dan Berani Lawan Hoaks

25 September 2026

...

Malang Pecahkan Rekor MURI BHD, 4.028 Orang Serentak Belajar Selamatkan Nyawa

Malang Pecahkan Rekor MURI BHD, 4.028 Orang Serentak Belajar Selamatkan Nyawa

19 September 2026

...

Luncurkan Program AI, BINUS @Malang Dorong Mahasiswa Jadi Pengendali Teknologi

Luncurkan Program AI, BINUS @Malang Dorong Mahasiswa Jadi Pengendali Teknologi

14 September 2026

...

Bukan Wisuda Biasa, UIBU Malang Sulap Kelulusan Jadi Pesta Paling Menghibur

Bukan Wisuda Biasa, UIBU Malang Sulap Kelulusan Jadi Pesta Paling Menghibur

10 September 2026

...

Bappenas Gandeng Dewan Pers, Ekosistem Media Nasional Masuk Agenda Prioritas RPJMN

Bappenas Gandeng Dewan Pers, Ekosistem Media Nasional Masuk Agenda Prioritas RPJMN

6 September 2026

...

Load More
Next Post
Dugaan Pelecehan Mahasiswi di Sukun, Polisi Buru Pengendara Motor Berhelm Merah

Dugaan Pelecehan Mahasiswi di Sukun, Polisi Buru Pengendara Motor Berhelm Merah

ISPA Mulai Banyak Dikeluhkan Warga, Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Debu Vulkanik dan Asap

ISPA Mulai Banyak Dikeluhkan Warga, Dinkes Kota Malang Ingatkan Bahaya Debu Vulkanik dan Asap

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • GAYA HIDUP

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

× Chat Admin