
KOTA MALANG – malangpagi.com
Lagi, pasien terkonfirmasi Covid-19 dengan kondisi cukup kritis kesulitan mendapatkan mobil ambulans lantaran belum diterima di rumah sakit rujukan.
Budi Suwarno (56), seorang warga Perum Bulan Bintang Terang Utama Blok KR 18 No. 10 Madyopuro, Kedungkandang pada Selasa (16/7/2021) berupaya mencari ambulans maupun rumah sakit rujukan. Namun, hasilnya nihil.
Puskesmas Gribig yang menjadi Puskesmas wilayah Madyopuro pun tidak bersedia memberikan layanan. Menurut informasi pihak keluarga, pihak puskesmas menyatakan bahwa pengantaran ambulans dilakukan secara mandiri.
Saat dikonfirmasi terkait hal tersebut, Camat Kedungkandang, Drs. Prayitno, MAP mengungkapkan bahwa SOP pengantaran pasien Covid-19 adalah ranah Public Safety Center (PSC).
“Pelayanan ambulans untuk warga yang terpapar, SOP-nya adalah PSC dan dipastikan juga pasien sudah mendapatkan rumah sakit rujukan yang mau menerima,” jawabnya Pratitno kepada Malang Pagi saat dihubungi melalui sambungan seluler, Selasa (16/7/2021).
Pihaknya menambahkan, pasien yang diutamakan adalah pasien terkonfirmasi Covid-19 dibuktikan dengan hasil swab dan keadaannya cukup parah.

“Mohon maaf Ibu, untuk pengantaran saat ini kami tidak bisa jika keluarga belum mencari rumah sakit dan pasien belum diterima di rumah sakit,” jawab layanan PSC melalui Whatsapp.
Karena permohonan pelayanan ambulans nihil, akhirnya jalan pintas pun ditempuh. Pasien dilarikan ke rumah sakit menggunakan taksi online. Dengan bantuan relawan Media Online Indonesia (MOI), Roni Agustinus pihak keluarga membantu mencarikan rumah sakit rujukan yang bisa menerima pasien.
Rumah Sakit Lapangan yang berada di Rumah Sakit Tentara (RST) Soepraoen menjadi tujuan pertama, karena kabarnya rumah sakit darurat ini sudah bisa dioperasikan untuk menampung pasien terpapar virus korona. Namun ternyata faktanya di luar dugaan.
“Rumah Sakit Lapangan di RST belum beroperasi. Dan berdasarkan info dari petugas jaga, pengoperasian adalah kebijakan dari pimpinan dan saat ini belum bisa meneria pasien Covid, kecuali dari TNI,” jelas Roni.

Pasien pun diupayakan ke Rumah Sakit Hermina. Namun lagi-lagi mereka juga tidak dapat menerima. Rumah sakit dengan tipe C itu tidak dapat menampung karena sudah penuh dan tidak memiliki ventilator. Begitupun di Rumah Sakit Panti Waluyo Sawahan juga penuh.
Setelah mencari rumah sakit rujukan di Kota Malang yang semuanya penuh, alternatif terakhir adalah menuju Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).
Sesampai di sana, antrean kendaraan pribadi tampak mengular. Untungnya pasien membawa oksigen sendiri dari rumah, sehingga dalam antrean masih dapat bertahan meskipun saturasinya semakin menurun.
Ironisnya, tidak hanya mobil pribadi yang berjajar, namun terlihat pula becak motor (bentor) yang turut dalam antrean. Tampak di atasnya pasien duduk lemas, tanpa ada oksigen dan fasilitas kesehatan penunjang lainnya.
Pemandangan mengerikan terjadi saat antre. Terdapat seorang pasien dalam antrean yang meninggal sebelum mendapat penanganan medis.
“Tidak sekali ini, Mbak, pasien meninggal saat antre. Malah Minggu malam ada dua pasien yang meninggal bersamaan saat antre,” ucap seorang pengunjung yang mengaku sudah berada di rumah sakit sejak Minggu sore.

Ia pun menceritakan kesulitan mencari rumah sakit rujukan hingga berputar-putar sampai Kabupaten Malang, dan kesulitan mencari ambulans karena ketentuan pasien harus mendapatkan rumah sakit terlebih dahulu.
Keluhan serupa juga dilontarkan warga Kelurahan Oro-Oro Dowo yang mengungkapkan bahwa dirinya sudah menghubungi layanan PSC. Namun ketentuan bahwa pasien harus mendapat rumah sakit dulu baru ada pelyanan ambulans.
Hingga solusi terakhir yang ditempuh adalah menggunakan mobil pribadi. Padahal secara kesehatan sangat tidak menunjang, apalagi dapat menimbulkan penularan terhadap pengendara.
Pertanyaan yang kemudian timbul dari kondisi seperti ini adalah, bagaimana jika pasien tidak mendapatkan rumah sakit rujukan? Apakah pelayanan ambulans tidak dapat berjalan?
Malang Pagi telah mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan dr. Husnul Muarif terkait hal tersebut. Namun hingga artikel ini diturunkan, yang bersangkutan belum memberikan jawaban.
Peristiwa yang terjadi akibat ganasnya gelombang Covid-19 kali ini merupakan sebuah pembelajaran berharga bagi masyarakat, terutama mereka yang kebingungan mencari rumah sakit rujukan.
Jangan mengandalkan ambulans di situasi seperti ini. Karena situasi darurat dan kesediaan oksigen bagi pasien sangat diperlukan. Terpenting, jangan membawa pasien saat mencari rumah sakit.
“Kami mengimbau kepada masyarakat, pasien taruh saja di rumah, biar keluarga yang mencarikan rumah sakit. Karena yang kami takutkan kalau dibawa wira-wiri seperti itu akan drop juga,” saran Ketua DPRD Kota Malang, I Made Rian Diana Kartika.
Ia pun menambahkan, masyarakat diminta menunggu Rumah Sakit Lapangan di RST Soepraoen dapat beroperasi satu dua hari lagi. “Memang apabila yang begini-begini sampaikan pada kami,” tegas Made saat menerima laporan dari MOI mengenai fakta yang terjadi di lapangan. (Har/MAS)