
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pemerintah Kabupaten Pamekasan menggelar roadshow Gebyar Batik Pamekasan di Jawa Bali. Kota Malang dipilih sebagai agenda perdana perhelatan pameran batik tulis khas Pamekasan tersebut.
Bukan tanpa alasan Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, melirik Kota Malang. Menurutnya, Malang adalah kota pelajar, di mana di dalamnya banyak terdapat kaum milenial.
“Kota Malang adalah kota pendidikan. Sasaran kami adalah para remaja, kaum muda, dan tentunya ini banyak di Kota Malang,” ungkap Baddrut Tamam, Jumat malam (18/3/2022).
Lebih lanjut dirinya membeberkan, rangkaian roadshow yang akan di gelar di lima daerah itu [Kota Malang, Tuban, Bromo, Surabaya, dan Bali] bertujuan untuk mempromosikan batik, serta mengenalkan batik tulis khas Madura kepada para generasi muda.
“Untuk pecinta batik yang sudah sepuh pasti sudah tahu apa itu batik tulis. Nah, kali ini kami kenalkan kepada kaum milenial. Nantinya Mas Embran [Embran Nawawi], yang merupakan konseptor dan desainer internasional, sudah menyiapkan desain untuk lima kota tersebut,” papar pria berkacamata itu.

“Tuban desainnya untuk para pekerja. Bali untuk orang yang akan berwisata. Dan Kota Malang dikhususkan untuk kaum muda. Jadi konsepnya tematik. Tergantung dari potensi daerahnya,” imbuh Baddrut Tamam.
Ra Baddrut, biasa Ia disapa, mengaku pihaknya akan mengikuti ajang bergengsi New York Fashion Week, dan sudah ada jalinan kerja sama. Bahkan dirinya mengungkapkan sudah ada beberapa pihak yang sudah memesan batik tulis khas pulau garam itu.
“Untuk itu, Pemkab Pamekasan serius mempromosikan batik. Seluruh mobil dinas kami branding batik. Kami selesaikan di internal dulu, baru kami kenalkan ke luar. Salah satu upaya kami ya lewat roadshow ini,” jelas politisi Partai Kebangkitan Bangsa itu.
Gebyar batik serupa sudah empat kali diselenggarakan oleh Pemkab Pamekasan sejak 2019. “Kami setiap tahun menggelar gebyar batik di kabupaten dan kota di Jawa Timur. Baru tahun ini menembus Bali, yang roadshow-nya dimulai dari Kota Malang,” tuturnya.
Baddrut Tamam ingin secara konsisten mengenalkan batik tulis sebagai ciri khas daerahnya. “Jika semua yang hadir di sini mengenakan batik tulis Pamekasan, selain menambah keindahan juga ada tuah di baliknya, yaitu menambah awet muda,” selorohnya yang disambut tawa para undangan.

Gelaran peragaan busana yang berlangsung di Malang Town Square (Matos) ini menampilkan batik Sidomukti yang sudah mengalami transformasi baik corak, warna maupun ornamennya.
“Motif batik yang kami tampilkan adalah Batik Sidomukti. Sido berarti jadi dan Mukti bermakna kebahagian. Jadi melalui gelaran batik tulis Sidomukti ini akan terwujud kebahagiaan dan kemuliaan,” papar Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Pamekasan, Nailah Chasanah Tamam.
Perempuan yang merupakan istri Bupati Pamekasan itu mengungkapkan, batik Sidomukti berasal dari Solo yang diadopsi dari zaman Mataram Kertasura. Batik ini memiliki ciri khas khusus, dengan warna identik soga atau berwarna coklat.
“Akhirnya batik Sidomukti berkembang ke wilayah Madura, karena ada hubungan darah antara Raja Mataram dengan para pembesar Madura. Sehingga mengalami transformasi, dari yang semula berwarna coklat kini menjadi warna yang lebih berani. Ada merah, kuning, dan hijau sesuai karakter orang Madura yang tegas dan berani,” jelas Naila Chasanah.
Selain warna, Ia menambahkan, pergeseran corak juga melekat di batik tulis khas Madura ini, yaitu menggambarkan lingkungan sekitar yang diaplikasikan pada kain mori dengan motif bunga dan daun.
Malam Gebyar Batik Pamekasan semakin semarak dengan lengak-lenggok para model berjalan di atas catwalk memperagakan busana batik tulis khas Pamekasan, ditambah karya para desainer muda berbakat Kota Malang.
Di samping itu, dihadirkan pula miniatur pasar batik tradisional Pamekasan oleh para perajin batik setempat, yang turut memeriahkan roadshow ini.
Hadir dalam perhelatan tersebut antara lain Wakil Bupati Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto, Sekda Kabupaten Pamekasan Totok Hartono, Ketua DPRD Pamekasan Fathor Rohman, Kepala Disperindag Kabupaten Pamekasan Achmad Sjaifuddin, Kepala Sekolah SMKN 3 Kota Malang Agus Dwi Cahyono, serta sejumlah komunitas dan pecinta batik. (Har/MAS)