Malang Pagi
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Malang Pagi

Perempuan Bersanggul Nasional Gelar Bincang Sanggul dan Busana di Candi Jago dan Candi Kidal

Tidak sekadar untuk berwisata dan berfoto-foto saja. Melainkan juga untuk mempelajari latar belakang sejarah serta cerita di balik relief candi.

by Red
7 September 2021
in Kabupaten Malang, Seni & Budaya
Bagikan Berita

Komunitas Perempuan Bersanggul Nasional saat mendengarkan pemaparan sejarah dari Ki Suryo. (Foto: istimewa)

KABUPATEN MALANG – malangpagi.com

Sabagai peradaban yang termasuk paling tua di Pulau Jawa, Malang menyimpan banyak peninggalan bersejarah dengan catatan kejayaannya. Terdapat beberapa situs tersisa yang tercatat sebagai kawasan cagar budaya. Seperti Candi Badut peninggalan Kerajaan Kanjuruhan, atau warisan Kerajaan Singosari yakni Candi Jago dan Candi Kidal.

Banyak cara dilakukan komunitas pelestari dan pecinta budaya untuk memanfaatkan keberadaan situs cagar budaya tersebut. Salah satunya dengan menjadikan obyek belajar sejarah tentang situs-situs cagar budaya.

Seperti kegiatan yang dilakukan perkumpulan PBN (Perempuan Bersanggul Nasional) dengan bertandang ke Candi Jago dan Candi Kidal di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, pada Minggu (5/9/2021).

Komunitas yang sebagian besar pesertanya adalah perempuan bersanggul dan berkebaya dengan antusiasme tinggi ingin belajar tentang candi dan relief-relief yang menghiasinya.

Baca Juga :

Satlantas Polresta Malang Kirim Dua Tangki Air Bersih ke Perumahan City Side Residence Gadang

Jembatan Jalur Alternatif Pengurai Kemacetan Singosari-Karangploso Rusak

6 April 2022
Peresmian Jalan Akses Menuju Goa Antaboga dan Candi Sumberawan

Divif 2 Kostrad Gelar Rapat Evaluasi Program Kerja dan Anggaran TA 2020

31 Desember 2020
Peresmian Jalan Akses Menuju Goa Antaboga dan Candi Sumberawan

Peresmian Jalan Akses Menuju Goa Antaboga dan Candi Sumberawan

31 Desember 2020
Pangkostrad Tinjau Fasilitas Latihan Virtual Reality Parachute Simulator

Pangkostrad Tinjau Fasilitas Latihan Virtual Reality Parachute Simulator

18 Desember 2020
Peresmian Kantor DPC Aspeparindo Kota Madiun

Laporan Korps Penyerahan Jabatan Kaajen dan Tradisi Pamen Divif 2 Kostrad

10 Desember 2020
Load More

Ketua PBN, Ries Handana Prawiradirja menyampaikan bahwa kunjungan komunitasnya ke peninggalan sejarah tidak sekadar untuk berwisata dan berfoto-foto saja. Melainkan juga untuk mempelajari latar belakang sejarah serta cerita di balik relief candi.

“Tidak hanya mengagumi keindahan arsitektur candi, kita berupaya mempelajari data dan informasi tentang candi yang dikunjungi,” jelas pria yang berprofesi sebagai arsitek itu.

Saat berkunjung ke Candi Kidal, rombongan PBN ditemui oleh Ki Suryo, juru pelihara candi. Pada kesempatan tersebut, Ki Suryo menjelaskan bahwa dalam sastra Jawa kuno terdapat mitos yang terkenal di kalangan masyarakat, yaitu mitos Garudheya.

Mitos tersebut menceritakan tentang seekor burung garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).

“Konon relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Mitos Garudheya tertuang secara lengkap dalam relief di sekeliling kaki candi. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan arah jarum jam), dimulai dari sisi selatan,” jelas Ki Suryo.

Saat rombongan bergeser ke Candi Jago, Ki Suryo kembali menceritakan tentang salah satu relief Buddhisme, yaitu relief Kunjarakarna. Relief ini bercerita tentang Kunjarakarna saat meminta kepada Hyang Wairocana untuk dapat mencapai pembebasan yang seutuhnya.

Kala itu, Kunjarakarna yang sedang bertapa di Gunung Semeru ingin bertemu Hyang Wairocana. Ki Suryo menjelaskan, menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, Candi Jago yang dibangun atas perintah Raja Kertanagara berlangsung sejak 1268 sampai 1280 masehi.

Candi Jago didirikan sebagai penghormatan kepada ayahandanya, Sri Jaya Wisnuwardhana, Raja Singasari ke-4 yang mangkat pada 1268 masehi. “Walaupun dibangun pada masa Kerajaan Singasari, Candi Jago merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit,” terang Ki Suryo.

Pada relief candi tersebut juga ditemukan gaya sanggul yang sangat mirip dengan gaya sanggul perempuan Bali saat ini. “Saya menemukan di relief terdapat wanita mengenakan kemben dengan jarik yang diwiru, dan dengan rambut disanggul. Tata busana dan gaya rambut mirip sekali dengan gaya yang dipakai perempuan era Majapahit, yang dapat dilihat di patung-patung koleksi Museum Empu Tantular,” ungkap Ries Handana.

Hal senada diucapkan Sany Repriandini, selaku Koordinator PBN Malang Raya, yang menyampaikan bahwa pada relief candi banyak digambarkan bagaimana busana perempuan Jawa saat itu.

“Bagaimana bentuk sanggu danl ornamen motif kain jarik waktu itu yang diharapkan dapat menginspirasi untuk desain jarik dan busana di masa depan, tanpa tercabut dari akar budaya,” terang Sany.

“Harapan kami setelah mendapatkan penjelasan dari relief candi ini, kami bisa melestarikan ragam busana yang menjadi kebanggaan masyarakat jawa,” tandasnya. (TNT/MAS)


Bagikan Berita
Tags: Candi Badutm Candi JagoCandi KidalKanjuruhanMajapahitPerempuan Bersanggul NasionalSingosari
ADVERTISEMENT

Related Posts

Empat Kecamatan Jadi Penutup Pekan Islami XIX PT ACA, Iwan Kurniawan Santuni 1.605 Anak Yatim

Empat Kecamatan Jadi Penutup Pekan Islami XIX PT ACA, Iwan Kurniawan Santuni 1.605 Anak Yatim

12 Maret 2026

...

Safari Ramadan Hari ke-10, PT ACA Bagikan 1.140 Santunan Yatim Piatu di Singosari dan Lawang

Safari Ramadan Hari ke-10, PT ACA Bagikan 1.140 Santunan Yatim Piatu di Singosari dan Lawang

11 Maret 2026

...

Sekda Kabupaten Malang Dorong Perusahaan Lain Tiru Program Pekan Islami Iwan Kurniawan

Sekda Kabupaten Malang Dorong Perusahaan Lain Tiru Program Pekan Islami Iwan Kurniawan

10 Maret 2026

...

Semangat Iwan Kurniawan Tak Pernah Padam, Hibur dan Santuni 1.178 Anak Yatim di Tiga Kecamatan Kabupaten Malang

Semangat Iwan Kurniawan Tak Pernah Padam, Hibur dan Santuni 1.178 Anak Yatim di Tiga Kecamatan Kabupaten Malang

9 Maret 2026

...

Keceriaan Yatim Piatu Warnai Pekan Islami XIX PT ACA, Iwan Kurniawan Ajak Anak-Anak Joget Bersama

Keceriaan Yatim Piatu Warnai Pekan Islami XIX PT ACA, Iwan Kurniawan Ajak Anak-Anak Joget Bersama

8 Maret 2026

...

Tiga Yatim Piatu di Wonosari Temukan Harapan Baru, Kisah Haru di Balik Santunan Pekan Islami XIX PT ACA

Tiga Yatim Piatu di Wonosari Temukan Harapan Baru, Kisah Haru di Balik Santunan Pekan Islami XIX PT ACA

8 Maret 2026

...

Dua Dekade Pekan Islami Hampir Tercapai, Gus Hamim Apresiasi Istiqomah Iwan Kurniawan

Dua Dekade Pekan Islami Hampir Tercapai, Gus Hamim Apresiasi Istiqomah Iwan Kurniawan

7 Maret 2026

...

Load More
Next Post
Pesantren Luhur Peringati Harlah Rayon PMII, Wujud Penghormatan Kepada Para Pendahulu

Pesantren Luhur Peringati Harlah Rayon PMII, Wujud Penghormatan Kepada Para Pendahulu

Presenter Berpacu Dalam Melodi, Koes Hendratmo Meninggal Dunia

Presenter Berpacu Dalam Melodi, Koes Hendratmo Meninggal Dunia

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

©2018 - 2024 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • GAYA HIDUP

©2018 - 2024 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

× Chat Admin