
MADIUN – malangpagi.com
Pasca Pemerintah Kota Madiun meluncurkan city branding mereka, berupa logo “Madiun Kota Pendekar”, kritikan keras mengalir dari berbagai pihak, terutama para warganer di berbagai media sosial.
City branding dalam rangka memperingati hari jadi Kota Madiun ke-103 itu diluncurkan melalui Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Madiun di Edupark Ngrowo Bening pada Jumat malam (30/4/2021).
Logo yang kontroversial tersebut menampilkan sosok seorang pendekar mengenakan seragam pencak silat sedang memperagakan ‘kembangan’ sambil duduk bersila.
Seperti unggahan akun Kang Liem di Grup Facebook Forum Wong Medhioen pada Sabtu (1/5/2021), Ia menulis “Beginilah logo terbaru yang telah diluncurkan sebagai icon Madiun Kota Pendekar oleh bapak Walikota Madiun,,, Mari kita dukung menuju Kota Madiun Go Internasional.”
Unggahan tersebut sontak menuai kritikan dan komentar bernada pedas. Salah satunya dilontarkan oleh Annas, “Koyok gaweane cah cilik digambar nganggo tangan karo spidol… (Seperti bikinan anak kecil digambar tangan menggunakan spidol).”
Ada pula Leo yang berkomentar, “Gek sopo tim penilai’ne kui??? Gambar koyok ngunu arep didadekne Icon… (Siapa sih tim penilainya? Gambar seperti itu kok mau dijadikan ikon).”
Sementara itu Nunik mengomentari desain baju yang dipakai di logo tersebut, yang menurutnya mirip model yang dimiliki salah satu perguruan silat, “Cenderung ke silat tertentu bajunya… kenapa gak universal?” Tak hanya itu, ada pula netizen yang membandingkan dengan logo milik Kabupaten Madiun yang memiliki tema serupa.
Kritikan keras juga dilontarkan Aji Prasetyo, budayawan asli Madiun yang kini menetap di Kota Malang. Menurutnya, secara estetika logo tersebut jauh dari yang diharapkan, sehingga wajar jika netizen ramai-ramai melontarkan kritik.
“Sederhananya begini. Logo ini jelek. Usaha kecil sekalipun gak akan mau didesainkan logo dengan kualitas seperti ini. Bahkan, dikasih gratis saja gak akan mau. Apalagi bayar,” tukas Aji yang dilansir situs berita RRI, Sabtu (1/5/2021)
Aji yang juga dikelas sebagai komikus kritik sosial itu pun mempertanyakan bagaimana logo tersebut sampai lolos diluncurkan. “Pemkot bikin logo ini kan pasti bayar. Ada yang gak beres di sini. Apakah selera seni Pemkot yang sangat buruk, atau ada persoalan tata kelola anggaran yang ‘lucu’, karena membeli sesuatu yang bahkan orang lain dikasih gratis gak akan mau,” tuturnya.
Lebih lanjut dirinya mengusulkan agar masyarakat mendesak Pemkot Madiun untuk segera membatalkan logo tersebut dan merevisinya, atau tetap menggunakan logo lama.
“Kawan-kawan, saatnya warga kota buka suara. Mari kita tolak rame-rame, sebelum kita (sekali lagi) jadi bahan bully-an skala nasional,” seru Aji.
Di sisi lain, pria yang pernah menempuh Pendidikan Seni Rupa di Universias Negeri Malang itu menilai, Kota Madiun memiliki banyak potensi desainer grafis mumpuni. Mereka pasti sanggup membuat logo yang lebih bagus, jika digelar sayembara secara terbuka.
“Masa orang se-Madiun gak punya selera dan wawasan seni. Kita melihat banyak sekali desainer putra daerah yang bagus-bagus dan karyanya sudah sampai luar negeri. Ini Pemkot buat-buat sendiri, tau-tau sudah dilaunching,” tandasnya Aji.
Sebelumnya Walikota Madiun, Maidi mengklaim, pemilihan logo Kota Pendekar ini sudah melalui proses seleksi dan pertimbangan yang matang, dan telah mendapat persetujuan dari 14 perguruan silat yang ada di Madiun. Maidi menilai logo ini pantas untuk mewakili seluruh perguruan dan ribuan warganya.
“Logo ini tidak hanya mewakili masyarakat Kota Madiun, tapi juga harus menarik perhatian warga luar kota. Ini penting, karena tujuan city branding Kota Madiun sebagai Kota Pendekar dapat dicapai secara maksimal dan optimal,” tegas Maidi.
Selain logo, Pemerintah Kota Madiun juga meluncurkan baju khas Kota Pendekar. Seragam yang menjadi identitas Kota Madiun tersebut berupa setelan pakaian berwarna hitam polos bertali putih ala baju pencak silat, dengan logo Kota Pendekar di dada sebelah kanan.
“Selain ada banyak pendekar, kami berharap akan diimbangi dengan branding yang menarik dan mudah diingat. Dengan begitu, akan terbuka peluang kerja baru, perekonomian meningkat, dan sebagainya,” pungkasnya.
Reporter : MA Setiawan
Editor : Redaksi