
KOTA MALANG – malangpagi.com
Brawijaya Smart School (BSS) bersama Joto High School dari Jepang menjalin kolaborasi dalam pengelolaan sampah melalui program pertukaran budaya dan edukasi lingkungan yang difasilitasi oleh PT Amerta Indah Otsuka. Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen Otsuka dalam mendukung pendidikan dan pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
Director Business Development PT Amerta Indah Otsuka, Kozue Nakada mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan antar pelajar dari dua negara melalui pembelajaran lintas budaya yang difokuskan pada isu global, khususnya tata kelola sampah.
“Program ini memberi ruang bagi siswa untuk belajar satu sama lain dan berbagi solusi secara kolaboratif. Tujuan akhirnya adalah mendorong mereka untuk semakin serius menangani isu lingkungan,” ujar Kozue, Jumat (8/8/2025).
Program pertukaran ini telah berjalan selama lima tahun. Pada tahun ini, 17 siswa dan 2 guru dari Joto High School hadir langsung di BSS untuk berbagi praktik terbaik terkait pemilahan dan pengelolaan sampah. Mereka juga memberikan pelatihan langsung kepada siswa BSS.
“Di Jepang, anak-anak sudah terbiasa memilah sampah sejak dini. Kami ingin mendorong agar pendekatan serupa juga berkembang di Indonesia secara bertahap,” terangnya.
Kozue menegaskan bahwa pertukaran ini bersifat dua arah. Siswa BSS mendapatkan inspirasi dari kedisiplinan pengelolaan sampah di Jepang, sementara siswa Joto terinspirasi dari semangat kemandirian siswa Indonesia yang membangun sistem pengelolaan sendiri tanpa bergantung penuh pada pemerintah.
“Kami melihat adanya saling tukar inspirasi. Siswa Indonesia belajar tentang ketertiban, dan siswa Jepang belajar pentingnya inisiatif pribadi,” jelasnya.
Output dari program ini pun disesuaikan dengan latar belakang masing-masing sekolah. BSS difokuskan untuk mengadopsi dan mengembangkan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dari Jepang. Sementara Joto High School mempelajari bagaimana meningkatkan semangat kemandirian dalam kepedulian terhadap lingkungan.
Kozue menilai, kesadaran pengelolaan sampah di Indonesia mulai menunjukkan kemajuan. Ia berharap inisiatif ini menjadi pemicu lahirnya gerakan lingkungan yang lebih luas di masyarakat.
“Filosofi Otsuka adalah menciptakan produk untuk kesehatan yang lebih baik di seluruh dunia. Karena itu, kami percaya bahwa lingkungan yang sehat juga bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah BSS, Farid Fatoni Setiawan, menyampaikan bahwa fokus pengelolaan sampah di sekolah kini tidak hanya pada botol plastik, tetapi juga merambah ke kertas.
Farid menyebut, program ini sebagai sarana edukatif yang memperluas wawasan siswa dan memperkaya pengalaman mereka di luar ruang kelas. Selain itu, sistem host family juga diterapkan, di mana siswa Jepang tinggal bersama keluarga siswa BSS selama program berlangsung.
“Dengan tinggal bersama, mereka bisa langsung mengenal budaya satu sama lain, mulai dari pola hidup hingga kebiasaan sehari-hari,” pungkasnya.
Kegiatan ini dianggap sebagai langkah penting dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini, sekaligus memperkuat pemahaman budaya antar bangsa secara mendalam. (YD)














