
KOTA MALANG – malangpagi.com
Masuknya gereja Katolik di Indonesia diwarnai dengan beberapa tahap dan perkembangan. Perjalanan ini dibeberkan oleh Sejarawan Ordo Karmel Rm. Edison Tinambunan O Carm dalam acara Seminar Mengenal Sejarah Misi Ordo Karmel di Indonesia, Kamis (04/05/2023).
Dalam perhelatan yang digelar di Gedung KSB (Katholieke Sociale Bond) Paroki Hati Kudus Yesus Malang atau dikenal dengan sebutan Gereja Kayutangan, Rm. Edison menyampaikan bahwa kehadiran Katolik di Jawa Timur dimulai pada abad ke 16 awal.
“Sebenarnya Katolik sudah ada pada abad ke 16 awal, tepatnya pada tahun 1511 yakni pada waktu Portugis berdagang ke Malaka kemudian Maluku. Pada periode ini , mereka membuat tempat persinggahan di Panarukan,” ungkap Dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana.
Ia mengatakan, di Panarukan para pedagang Portugis yang mayoritas beragama Katolik mulai membuat Kampung Kristiani oleh misionaris Jesuit, Dominikan dan Fransiskan. “Pada saat itu, juga sudah ada Kerajaan Blambangan yang menerima Katolik. Namun, pada tahun 1592 perkembangan Katolik bisa dikatakan berhenti karena pada saat itu Pasuruan menduduki Panarukan dan menaklukkan Blambangan sehingga keberadaan Kristiani mulai hilang,” terang Rm. Edison.

Kemudian, pada tahun 1603 Katolik tidak diperkenankan hidup di Indonesia, sehingga yang berkembang adalah Protestan hingga umat Protestan membuat komunitas pertama di Maluku. “Awal abad ke-19 ada sedikit kelonggaran di Belanda dan mulai ada misi Katolik ke Indonesia yang dimulai dari misi Projo tahun 1807,” tuturnya.
“Karena perkembangan teknologi gereja sudah mulai membaik, maka pada tahun 1842 didirikan Prefektur Apostolik yang bertempat di Batavia dan ini berlangsung sampai abad ke-20,” imbuh Rm. Edison.
Lalu, ia membeberkan pada tahun 1859 Jesuit mulai masuk ke Indonesia hingga berkembang di Surabaya. “Lalu Projo yang sebelumnya datang ke sini karena kebutuhan iman di Belanda, maka mereka kembali ke negerinya. Umat Katolik pun ditangani oleh Jesuit di seluruh Indonesia,” terangnya.
Doktor teologi di Angelicum Roma ini pun menyampaikan bahwa pada tahun 1902, propaganda fide membuat keputusan pembagian misi di Indonesia. “MSC (Misionarii Sacritissimi Cordis) meliputi wilayah Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Sulawesi. Untuk wilayah Kalimantan dan Sumatera ditangani OFMCap (Ordo Fratrum Minorum Cappucinorum). Pada tahun 1910 di Nusa Tenggara Timur ditangani oleh SVD (Sociates Verbi Divini). Sedangkan di Jawa ditangani oleh Jesuit, karena Jesuit hanya bermisi di Pulau Jawa” papar Rm. Edison.

Selanjutnya, propaganda fide yang menangani misi Gereja secara universal, membagi daerah misi Pulau Jawa pada tahun 1921. “Jawa Tengah ditangani Jesuit, Jawa Barat oleh OSC (Ordo Sanctae Crucis). Sedangkan, di Jawa Timur dibagi menjadi dua yaitu Jawa Timur bagian timur dan Jawa Timur bagian barat,” ujar Rm. Edison.
“Alasan Jawa Timur dibagi menjadi dua karena daerah ini secara geografis dan sosial lebih sulit dibandingkan dengan Jawa Barat dan Jawa Tengah, sehingga masuk akal jika Jawa Timur dibagi menjadi dua daerah misi. Dalam pembagian itu, Jawa Timur bagian timur ditangani oleh Ordo Karmel (Ordo Fratrum Beatissime Virginis Mariae de Monte Camelo) dan Jawa Timur bagian barat ditangani oleh CM (Cogregatio Missionis),” tutup Rm. Edison. (Har/YD)














