
KOTA MALANG – malang pagi.com
Salah satu profesi yang tidak mengenal istilah pensiun adalah menjadi seorang seniman. Hal tersebut dibuktikan Bagus Brahmananto. Kreativitasnya tak luntur meski di usia menginjak 70 tahun, dirinya menggelar pameran tunggal bertajuk Capturing Beauty.
Bertempat di Dewan Kesenian Malang, Jalan Majapahit No. 3 Kota Malang, sebanyak 76 lukisan dari digital drawing karya Bagus Brahmananto dipamerkan di dua aula.
“Sakit membuat kondisi fisik saya berkurang. Kaki tidak lagi bisa berjalan jauh. Duduk pun tak bisa berlama-lama. Itulah mengapa saya beralih ke digital drawing. Naik kereta, naik bus, saya tetap bisa melukis. Bahkan saat terbaring di rumah sakit pun tetap bisa berkarya,” ungkap Bagus kepada Malang Pagi, ditemui saat pembukaan pameran tunggalnya, Sabtu (14/1/2021).
Seniman multi talenta kelahiran Wates, Kediri, 2 Juli 1952 itu mengaku sejak kecil dirinya sudah bergelut dengan kesenian. Ayahnya adalah seorang Kepala Sekolah Taman Siswa, yang menekankan bahwa pendidikan karakter dapat ditempuh melalui kesenian dan kebudayaan.
“Kesenian bagi saya adalah proses belajar sebuah kehidupan. Karena dari berkesenian itu, kita dapat menuangkan kesedihan, tangisan, dan meluapkan kebahagiaan. Pada prinsipnya, berkesenian dan berkarya itu adalah meluapkan keinginan bercerita kepada orang lain,” beber mantan guru seni SMA Negeri 3 Kota Malang itu.

Lebih lanjut Bagus menceritakan, dirinya memutuskan beralih menggunakan media digital sejak 2006 lalu. Ia mengakui, butuh dua tahun untuk beradaptasi dari melukis secara konvensional ke digital.
“Awalnya saya menggunakan handphone biasa yang touchscreen, lalu menggunakan tablet. Pokoknya semuanya menggunakan android,” jelas seniman yang juga pandai menari dan bernyanyi itu.
Apresiasi diberikan kurator Akhmadi Budi Santoso. Pria berambut gondrong ini menilai Bagus Brahmananto adalah sosok yang inspiratif. “Beliau adalah figur yang menginspirasi. Tidak ada istilah pensiun dalam darah seninya. Meskipun usia tak lagi muda, namun semangatnya luar biasa,” puji pria yang akrab disapa Lek Bud itu.
Dirinya menilai, lukisan Bagus Brahmananto mengusung tema segala hal yang dicintai dan dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari. “Dunia tari yang sejak kecil Ia tekuni banyak memberi inspirasi. Seperti dalam lukisannya bertajuk Liuk Tubuh Penari. Dunia musik, kisah dongeng ataupun legenda tak luput dari perhatiannya. Kecintaan pada keluarga juga digambarkan dalam lukisan Aku dan Cucu,” beber Lek Bud.
Tak hanya itu, sosok perempuan, bunga, dan hewan juga menjadi inspirasi Bagus Brahmananto dalam berkarya. “Lewat pameran ini, setidaknya Pak Bagus menegaskan bahwa kreativitas tidak dapat dihalangi oleh usia. Selalu berkarya dan diekspresikan dalam berbagai media,” tegasnya.
Pendapat senada penada dilontarkan Ketua Dewan Kesenian Malang, Bobby Nugroho. Pihaknya mengaku menyambut baik gelaran pameran tunggal Bagus Brahmananto.
Bobby mengatakan, usia bukanlah penghalang bagi Bagus untuk berkarya. “Meskipun usia tidak lagi muda, dan kemampuan fisik mulai berkurang, namun sosok Pak Bagus dapat menciptakan karya dengan media yang lebih modern dengan pemanfaatan teknologi,” tuturnya.
Dirinya memandang Bagus sebagai sosok yang diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda sekaligus generasi senior untuk terus berkarya.
“Dari karya-karya Pak Bagus, kita bisa belajar untuk tidak bergantung pada satu macam media. Banyak media baru yang dapat dijelajahi. Dari beliau juga, kita bisa melihat bahwa proses belajar dan mengajar, terinspirasi dan menginspirasi, itu tidak mengenal usia,” pungkas Bobby. (Har/MAS)