
KOTA MALANG – malangpagi.com
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin memberikan apresiasi tinggi kepada warga RW 02 Kelurahan Ciptomulyo, Kecamatan Sukun, Kota Malang yang sukses menggelar Parade Budaya Tomporedjo 2025. Gelaran yang diikuti oleh seluruh RT di wilayah tersebut menampilkan kreativitas dan kekompakan warga dengan sajian budaya Nusantara yang memukau.
Parade ini menghadirkan beragam penampilan khas daerah, mulai dari budaya Madura lengkap dengan kuliner sate, tari kecak Bali dengan ogoh-ogoh, hingga kostum bernuansa adat Papua. Kehadiran seluruh warga yang terlibat membuat suasana peringatan HUT ke-80 Kemerdekaan RI semakin meriah.
“Ini merupakan bagian penting dari mensyukuri kemerdekaan kita yang ke-80. Dan terutama, ini membuktikan bahwa Kota Malang tetap adem,” ungkap Ali, Minggu (31/8/2025).
Ali menegaskan, parade budaya tersebut sejalan dengan program Pemerintah Kota Malang yang mendorong terciptanya 1.000 event dalam setahun. Menurutnya, keberagaman budaya yang ditampilkan warga menjadi simbol persatuan dan kesatuan.
“Yang paling penting, kita syukuri kita bisa merasakan kemerdekaan sesungguhnya. Menampilkan berbagai kebudayaan adalah wujud rasa syukur dan kebersamaan,” tambahnya.
Di tempat yang sama, Ketua RW 02 Ciptomulyo, Indriana Martiningsih, menyebut parade budaya tahun ini terasa istimewa. Pasalnya, terakhir kali kegiatan serupa digelar pada tahun 2004, atau 21 tahun yang lalu.
“Alhamdulillah, setelah sekian lama tidak ada karnaval, akhirnya tahun ini warga bisa merayakan dengan semarak. Semua RT benar-benar berpartisipasi penuh,” ujarnya.

Indriana juga menegaskan bahwa karnaval kali ini berbeda dari biasanya karena tidak menggunakan sound horeg, yang selama ini identik dengan hajatan maupun karnaval kampung. Keputusan itu diambil sebagai bentuk kepatuhan pada arahan Wali Kota dan Polresta Malang.
“Kami sepakat untuk tidak menggunakan sound horeg, demi menaati aturan yang sudah dibuat stakeholder. Karnaval ini bukan sekadar hiburan, tapi juga momentum mempererat silaturahmi warga,” tegasnya.
Senada, Ketua Pelaksana Karnaval, Yogga Ardiawan, menambahkan bahwa langkah RW 02 Ciptomulyo ini diharapkan menjadi contoh bagi kampung lain.
“Merujuk instruksi dari Pak Wali Kota dan Pak Kapolresta, kami berinisiatif tidak menggunakan sound horeg. Harapannya, aturan ini ditaati oleh seluruh warga Kota Malang, dan kami memulainya dari RW 02 Ciptomulyo,” pungkas Yogga. (Dik/YD)