
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pemerintah Kota Malang mulai menyusun rencana besar untuk menata ulang kawasan Stasiun Kota Malang yang berada di Jalan Trunojoyo. Salah satu fokus utama dalam penataan ini adalah penyediaan shelter khusus bagi ojek online (ojol) yang selama ini kerap mangkal sembarangan di trotoar depan stasiun dan mengganggu ketertiban lalu lintas.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima paparan dari PT KAI Daop 8 mengenai desain awal penataan kawasan.
“Perkembangan terakhir, kami sudah audiensi dengan Pak Wali Kota. Kepala Daop 8 menyampaikan skenario penataan ke depan, termasuk penyediaan tempat parkir oleh PT KAI di area mereka sendiri,” ujar Widjaja, Senin (11/8/2025).
Rencana penataan mencakup pengaturan pintu masuk dan keluar stasiun, yang selama ini menjadi titik kemacetan. Nantinya, pintu masuk akan difokuskan dari sisi utara, sementara pintu keluar berada di sisi selatan. Dishub juga mendorong agar bagian depan stasiun diberi pagar, untuk mencegah penyeberangan sembarangan dan parkir liar dari pengemudi ojol.
“Kami minta dibuat pagar agar tidak ada penumpang yang langsung menyeberang di jalan. Termasuk pengemudi online, kami sudah berkoordinasi dengan operator dan menyampaikan penataan pengemudi secara tertulis,” tegasnya.
Terkait penyediaan shelter untuk ojek online, Widjaja menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pihak operator aplikasi. Namun, Pemerintah Kota Malang akan memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebagai pemilik kewenangan perizinan.
“Penyediaan shelter itu memang kewajiban mereka. Kami akan berkoordinasi lebih detail lagi dengan provinsi, karena izinnya ada di provinsi. Kami akan menyampaikan masukan soal pengaturan kewajiban shelter itu,” jelasnya.
Meski demikian, lokasi pasti shelter masih dalam tahap kajian bersama antara Dishub, kepolisian, dan pihak-pihak terkait lainnya. Widjaja menekankan bahwa penataan ini bukan hanya soal infrastruktur, melainkan juga untuk mempercantik wajah Kota Malang.
“Kata kuncinya adalah, kita harus menata agar stasiun ini menjadi muka Kota Malang yang rapi dan tertib,” imbuhnya.
Widjaja juga menyoroti masih banyaknya perilaku tidak tertib dari pengemudi dan penumpang ojol, seperti berhenti di trotoar atau meminta dijemput di lokasi sembarangan.
“Peraturan itu sudah jelas. Tapi perilaku inilah yang jadi tantangan. Saya sering turun langsung ke lapangan. Saya bilang ke penumpang, ‘Mbak, Bu, Pak, tolong jangan minta dijemput di sini ya. Naiklah di tempat yang tidak dilarang’,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa titik penjemputan bisa diarahkan ke sisi utara atau selatan stasiun, selama tidak berada di area terlarang seperti tikungan, zebra cross, atau dekat lampu lalu lintas.
“Yang penting jangan berhenti di tempat terlarang. Kita harus saling mengisi, baik pengemudi maupun penumpang,” pungkasnya. (YD)














