MALANG – malangpagi.com
SMPK St. Antonius Kalipare, Kabupaten Malang, mengajak peserta didik meningkatkan budaya literasi melalui kegiatan Bulan Bahasa dalam rangka menyambut Hari Sumpah Pemuda. Kegiatan ini menjadi upaya sekolah untuk menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa Indonesia, membiasakan membaca, sekaligus melatih keberanian siswa dalam menulis.
Dalam kegiatan tersebut, SMPK St. Antonius Kalipare menghadirkan Dr. Agustinus Indradi, M.Pd., dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Katolik Widya Karya Malang, sebagai narasumber.
Agustinus memberikan materi tentang pentingnya bahasa, budaya membaca, serta keterampilan menulis sebagai bagian dari pengembangan kemampuan literasi peserta didik.
Kepala SMPK St. Antonius Kalipare, Yulius Sutrisno, mengatakan kegiatan ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap penggunaan gawai dan perkembangan teknologi yang semakin dekat dengan kehidupan anak-anak.
Menurutnya, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan kemampuan berbahasa dan kebiasaan membaca. Terlebih, berdasarkan pengamatan sekolah serta hasil rapor pendidikan tahun ini, kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar masih perlu ditingkatkan.
“Melalui kegiatan Bulan Bahasa ini, kami berharap kemampuan literasi peserta didik semakin berkembang. Kami juga ingin menumbuhkan kembali kecintaan mereka terhadap bahasa dan budaya,” ujarnya.
Yulius menambahkan, kemampuan berbahasa tidak hanya berkaitan dengan keterampilan berbicara dan menulis, tetapi juga berperan dalam membentuk karakter.
“Penggunaan bahasa yang baik dapat membiasakan siswa menerapkan tata krama, sopan santun, serta sikap saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 102 peserta didik dari kelas VII, VIII, dan IX. Seluruh guru SMPK St. Antonius Kalipare turut hadir untuk mendukung pelaksanaan kegiatan.
Sementara dalam pemaparannya, Agustinus menekankan bahwa membangun budaya literasi tidak cukup hanya dengan membiasakan peserta didik membaca. Mereka juga perlu memiliki keberanian untuk menuangkan gagasan, pengalaman, dan imajinasi ke dalam tulisan.
Menurutnya, menulis bukanlah keterampilan yang hanya dimiliki orang-orang berbakat. Kemampuan tersebut dapat dipelajari dan dikembangkan melalui kebiasaan membaca, latihan, serta kemauan untuk terus belajar.
Agustinus menjelaskan, terdapat tiga modal penting dalam proses belajar, yakni pendengaran, penglihatan, dan perhatian. Ketiganya membantu seseorang menerima informasi, memahami lingkungan, serta mengolah pengalaman menjadi gagasan yang dapat dituangkan dalam tulisan.
Ia juga mengingatkan bahwa tulisan memiliki kekuatan untuk melintasi ruang dan waktu. Melalui karya tulis, pemikiran dan peristiwa dari masa lalu dapat dikenal oleh generasi berikutnya.
Salah satu contohnya adalah penyair Chairil Anwar yang namanya tetap dikenang melalui karya-karyanya.
Pesan tersebut diharapkan mampu mendorong peserta didik agar tidak menganggap menulis sebagai kegiatan yang sulit atau hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu.
Salah satu materi yang diperkenalkan dalam kegiatan Bulan Bahasa tersebut adalah pentigraf atau cerpen tiga paragraf. Bentuk cerita pendek ini menjadi sarana latihan bagi peserta didik untuk mengembangkan kreativitas, imajinasi, serta kemampuan menyusun cerita secara ringkas.
Agustinus menjelaskan bahwa pentigraf tetap memiliki unsur pembangun cerita, seperti tokoh, penokohan, alur, latar, tema, dan pesan. Seluruh unsur tersebut dirangkai dalam tiga paragraf.
Paragraf pertama berisi pengenalan tokoh dan situasi. Paragraf kedua menghadirkan masalah atau konflik, sedangkan paragraf ketiga memuat penyelesaian atau akhir cerita.
Untuk memudahkan siswa memahami materi, Agustinus memberikan contoh cerita yang bersumber dari pengalaman sehari-hari, seperti salah masuk kelas, membantu orang tua di sawah, hingga kotak pensil pemberian ayah.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa peristiwa sederhana di rumah, sekolah, lingkungan pertemanan, maupun kehidupan keluarga dapat menjadi bahan cerita yang menarik dan sarat makna.
Peserta didik juga didorong untuk mengamati orang, benda, dan berbagai peristiwa di sekitar mereka. Hasil pengamatan tersebut dapat dikembangkan menjadi tokoh, konflik, hingga akhir cerita.
Sebagai bentuk penerapan materi, peserta didik mendapatkan tugas membuat pentigraf berdasarkan pengalaman sehari-hari bersama teman atau keluarga. Karya tersebut harus ditulis secara mandiri tanpa menggunakan ChatGPT maupun aplikasi sejenis.
Dalam ketentuan tugas, paragraf pertama harus terdiri atas dua hingga empat kalimat, paragraf kedua tiga hingga lima kalimat, dan paragraf ketiga dua hingga empat kalimat.
Latihan ini diharapkan tidak hanya membantu siswa memahami struktur cerita, tetapi juga membangun kepercayaan diri dalam menghasilkan karya tulis sendiri.
Agustinus menegaskan bahwa membaca dan menulis perlu dilakukan secara berkelanjutan. Membaca dapat menambah pengetahuan, memperkaya kosakata, serta membuka sudut pandang baru yang bisa dikembangkan menjadi tulisan.
Ia merangkum empat unsur penting dalam membangun cerita, yakni pengalaman, imajinasi, kemampuan menulis, dan keberanian. Keberanian menjadi salah satu unsur utama karena penulis perlu memulai tanpa harus menunggu tulisannya sempurna.
Melalui kegiatan Bulan Bahasa ini, SMPK St. Antonius Kalipare berharap peserta didik semakin terampil menggunakan bahasa Indonesia, memiliki kebiasaan membaca, serta berani menuangkan gagasan melalui tulisan. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelestarian bahasa dan budaya di lingkungan sekolah.
Pesan utama yang ditekankan dalam kegiatan ini adalah bahwa menulis bukan semata-mata persoalan bakat, melainkan keterampilan yang dapat berkembang melalui latihan dan kebiasaan.
“Menulis bukan semata-mata soal bakat, melainkan keterampilan yang perlu dilatih. Langkah pertama untuk menjadi penulis adalah berani mulai menulis,” pesannya. (*/YD)












