Malang Pagi
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Malang Pagi

Tradisi Megengan dan Nyadran di Kampung Budaya Polowijen

Acara Megengan dan Nyadran kali ini diikuti lebih dari 30 perempuan Komunitas Perempuan Sanggul Nusantara dari Malang dan Surabaya.

by Red
10 April 2021
in Kota Malang, Seni & Budaya
Bagikan Berita

Komunitas Perempuan Sanggul Nusantara memberi warna tersendiri di tradisi Megengan dan Nyadran Kampung Budaya Polowijen tahun ini. (Foto: Tanto/MP)

KOTA MALANG – malangpagi.com

Tiga hari menjelang bulan puasa Ramadan, Sabtu (10/4/2021), Kampung Budaya Polowijen menggiatkan kembali tradisi Megengan dan Nyadran Mapag Wulan Siam.

Berbeda dari biasanya, acara Megengan dan Nyadran kali ini diikuti lebih dari 30 perempuan bersanggul dan berkebaya, yang merupakan anggota Komunitas Perempuan Sanggul Nusantara dari Malang dan Surabaya.

Acara Megengan Mapag Wulan Siam dipimpin oleh Isa Wahyudi alias Ki Demang, dengan mengujubkan doa-doa Jawa dilengkapi sesajian cok bakal, bubur putih merah, bubur palang, sego golong, dan tidak ketinggalan apem curcum dan pisang sebagai hidangan khas Megengan.

Menurut Penggagas Kampung Budaya Polowijen itu, terdapat makna filosofis dari sesajian kue apem dan pisang yang dihidangkan. Yaitu ungkapan saling memaafkan antarsesama dalam rangka penyucian diri.

Baca Juga :

Seru! Evan Sanders Kunjungi Kampung Budaya Polowijen

Seru! Evan Sanders Kunjungi Kampung Budaya Polowijen

24 Maret 2024
Peringatan Hari Jadi Ke-5 Kampung Budaya Polowijen, Simbol Pemulihan Ekonomi Kota Malang

Peringatan Hari Jadi Ke-5 Kampung Budaya Polowijen, Simbol Pemulihan Ekonomi Kota Malang

2 April 2022
Kampung Budaya Polowijen Kuatkan Ekonomi Kreatif Melalui Ecoprint

Kampung Budaya Polowijen Kuatkan Ekonomi Kreatif Melalui Ecoprint

27 Maret 2022
Wilujengan Kamulyan, Momentum Kakang Mbakyu Promosikan Kampung 1.000 Topeng

Wilujengan Kamulyan, Momentum Kakang Mbakyu Promosikan Kampung 1.000 Topeng

20 November 2021
Kakang Mbakyu Jadikan Festival Panawijen Djaman MBiyen Sebagai Ajang Belajar Seni Budaya Malang

Kakang Mbakyu Jadikan Festival Panawijen Djaman MBiyen Sebagai Ajang Belajar Seni Budaya Malang

14 November 2021
Load More

“Tujuan dilaksanakan Megengan Mapag Wulan Siam adalah agar mendapatkan berkah rahmat dan ampunan pada saat menjalankan ibadah puasa Ramadan. Megengan sendiri berasal dari bahasa Jawa, megeng, yang berarti menahan diri. Bisa juga diartikan sebagai puasa itu sendiri,” tuturnya.

Menurut Ki Demang, tradisi Megengan dan Nyadran sebenarnya merupakan hasil akulturasi budaya lokal dan budaya Islam. Sebelum kedatangan Islam di Pulau Jawa melalui Wali Songo, di zaman Majapahit juga didapati tradisi serupa yang disebut dengan Ruwahan.

Tradisi ini berkaitan dengan bulan Ruwah (bulan dalam kalender Jawa yang bersamaan dengan bulan Syaban pada penanggalan Hijriah). Istilah Ruwah dimaknai sebagai arwah atau roh. Dalam hal ini adalah roh para leluhur dan nenek moyang.

“Sunan Kalijaga berdakwah kepada masyarakat Jawa pedalaman, terutama Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian selatan, dengan menggunakan pendekatan sosial budaya. Salah satunya adalah dengan memodifikasi tradisi Ruwahan menjadi Megengan,” jelas Ki Demang.

“Jika sesajen dalam Ruwahan biasanya dipersembahkan untuk arwah dan tidak boleh dimakan, maka pada Megengan sesajen tersebut diganti dengan sedekah makanan yang dibagikan dan dimakan bersama,” imbuhnya.

Usai Megengan, acara dilanjutkan dengan Nyadran ke makam Mbah Reni atau Ki Tjondro Suwono, seorang empu Topeng Malang yang berasal dari Polowijen. Acara Nyadran dipimpin oleh Ki Supriyono, S.Sn yang merupakan dalang dan seniman tari topeng, serta guru seni di KBP.

Pada kesempatan itu, Ries Handono selaku salah satu inisiator Perempuan Bersanggul Nusantara menyampaikan bahwa acara Megengan dan Nyadran Mapag Wulan Siam di KBP berlangsung sangat khidmat dan sarat makna.

“Agar tidak luntur, pelestarian tradisi yang menjadi warisan budaya ini perlu diperkenalkan kembali kepada generasi muda agar tetap terjaga. Adapun kehadiran komunitas perempuan bersanggul dan berkebaya dimaksudkan untuk lebih memberikan warna, agar tradisi ini dijalankan sesuai adat dan pakem orang Jawa,” ujarnya.

“Kami berterimakasih kepada KBP, karena sudah diterima berkunjung ke sini. Ke depan, kami akan terus bekerja sama dalam hal peningkatan pelestarian budaya” ucap pria yang berprofesi sebagai arsitek itu.

 

Reporter : Tanto

Editor : MA Setiawan


Bagikan Berita
Tags: Isa WahyudiKampung Budaya PolowijenKi DemangMegenganNyadranPerempuan Sanggul NusantaraPuasa Ramadan
ADVERTISEMENT

Related Posts

Wali Kota Malang Rombak Jajaran Utama Pejabat, 10 Posisi Strategis Berganti

Wali Kota Malang Rombak Jajaran Utama Pejabat, 10 Posisi Strategis Berganti

31 Juli 2026

...

Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Resmi Pimpin Polresta Malang Kota, Siap Lanjutkan Program dan Perkuat Pelayanan

Kombes Pol Danang Setiyo Pambudi Resmi Pimpin Polresta Malang Kota, Siap Lanjutkan Program dan Perkuat Pelayanan

29 Juli 2026

...

Tim Taekwon-Do Kota Malang Raih Juara Umum 3 di PITC 2026 Malaysia

Tim Taekwon-Do Kota Malang Raih Juara Umum 3 di PITC 2026 Malaysia

29 Juli 2026

...

Wartawan Malang Raya Gelar Aksi Kami Bukan Londo Ireng, Desak Presiden Prabowo Minta Maaf

Wartawan Malang Raya Gelar Aksi Kami Bukan Londo Ireng, Desak Presiden Prabowo Minta Maaf

27 Juli 2026

...

Sambut HUT ke-25, DPC Partai Demokrat Kota Malang Gelar Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI

Sambut HUT ke-25, DPC Partai Demokrat Kota Malang Gelar Gerakan Langit Biru Indonesia ASRI

24 Juli 2026

...

TPA Supit Urang Diprediksi Penuh Tiga Tahun Lagi, DLH Kota Malang Genjot Pengelolaan Sampah dari Hulu

TPA Supit Urang Diprediksi Penuh Tiga Tahun Lagi, DLH Kota Malang Genjot Pengelolaan Sampah dari Hulu

22 Juli 2026

...

Wali Kota Malang Tegaskan Larangan Sound Horeg Selama Perayaan HUT RI

Wali Kota Malang Tegaskan Larangan Sound Horeg Selama Perayaan HUT RI

22 Juli 2026

...

Load More
Next Post
Festival Pesona Rampal, Bangkitkan Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif

Saresehan Budaya Forum Pamong Kebudayaan Jawa Timur

Reaksi Cepat Tanggap Bencana Pemuda Pancasila Kabupaten Malang

Reaksi Cepat Tanggap Bencana Pemuda Pancasila Kabupaten Malang

ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • GAYA HIDUP

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

× Chat Admin