
MALANG – malangpagi.com
Kasus dugaan tunggakan pembayaran terhadap vendor pemasangan CCTV dan sistem audio di Taman Wisata Wendit, Kabupaten Malang, menjadi perhatian publik setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Vendor mengaku hingga kini belum menerima pelunasan senilai sekitar Rp105 juta, padahal proyek disebut telah selesai sejak pertengahan 2025.
Pemilik Vendor Nuansa CCTV, Dani Reza Kusuma, menegaskan bahwa penyampaian persoalan ini bukan bertujuan menjatuhkan pihak tertentu, melainkan untuk memperjuangkan haknya sebagai penyedia jasa.
“Saya tidak punya tendensi apa pun untuk menjelekkan pihak lain. Saya hanya ingin hak saya dipenuhi. Sebenarnya ini juga memalukan kalau harus viral, tapi kondisinya sudah terlalu lama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerja sama bermula pada Desember 2024, saat dirinya baru merintis usaha CCTV dan aktif memasarkan layanan melalui media sosial. Dari promosi tersebut, ia mendapat permintaan pemasangan CCTV di kawasan wisata Wendit.
Setelah melakukan survei, disepakati pemasangan sekitar 40 titik CCTV dengan nilai proyek kurang lebih Rp90 juta. Proyek kemudian berjalan setelah pembayaran uang muka dilakukan dalam dua tahap dengan total lebih dari Rp50 juta.
“Pemasangan sekitar 40 titik CCTV ini disepakati dengan nilai kurang lebih Rp90 juta. Pengerjaan kemudian berjalan setelah ada pembayaran uang muka dalam dua tahap dengan total lebih dari Rp50 juta,” ujar Dani.
Dalam perkembangannya, pihak pengelola juga meminta tambahan pengadaan sistem audio. Dani menyanggupi permintaan tersebut setelah melakukan demonstrasi produk. Nilai pekerjaan audio disebut mencapai sekitar Rp160 juta, dengan sistem pembayaran bertahap.
“Untuk audio, kami menerima DP sekitar Rp50 juta di awal, lalu ada dua kali pembayaran lanjutan setelah Lebaran 2025, masing-masing Rp35 juta dan Rp15 juta. Jadi total DP audio sekitar Rp100 juta,” jelasnya.
Namun, permasalahan muncul saat proyek memasuki tahap akhir. Menurut Dani, pekerjaan sebenarnya telah rampung pada Juni hingga Juli 2025 dan tinggal proses serah terima serta pemeliharaan. Namun, pelunasan hingga kini belum juga direalisasikan.
Ia mengaku telah berulang kali mengirimkan invoice dan melakukan penagihan, baik melalui pesan WhatsApp maupun mendatangi langsung lokasi. Namun, upaya tersebut tidak mendapat respons yang jelas.
Dani juga mengungkapkan adanya informasi pergantian manajemen di pihak pengelola. Saat komunikasi kembali dilakukan, justru muncul permintaan pemotongan nilai sisa pembayaran.
“Sisa pembayaran sekitar Rp105 juta, tapi diminta potongan. Menurut saya itu tidak masuk akal karena kesepakatan harga sudah ada sejak awal,” ungkapnya.
Berbagai upaya penyelesaian telah ditempuh, termasuk menawarkan skema pembayaran secara bertahap. Namun, opsi tersebut juga tidak mendapatkan tanggapan positif.
“Kami sudah menawarkan bisa dicicil, entah per bulan atau dalam setahun, yang penting ada itikad baik. Tapi itu juga tidak disepakati,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Malang Pagi telah mencoba mengkonfirmasi pihak pengelola Taman Wisata Wendit untuk memberikan keterangan resmi terkait dugaan tunggakan pembayaran tersebut. Namun, masih belum mendapat respon. (YD)












