
KOTA MALANG – malangpagi.com
Sekarang ini zaman susah. Ada banyak hal yang menimbulkan masalah di hari ini, dan begitu pula, ada hal-hal yang menimbulkan masalah di masa depan.
Karena banyaknya masalah itu, mahasiswa, juga siswa sekolah menengah, banyak yang tidak mengerti, namun melakukan ekspresi sembarangan. Berekspresi itu bagus, tetapi jangan ngawur.
Pernyataan itu dilontarkan Pendiri Yayasan Perspektif Baru, Wimar Witoelar, Senin (12/10) saat menjadi pembicara dalam Webinar bertajuk “Perspektif Baru Hidup Baru dengan Energi Terbarukan,”
Dalam rilis yang diterima Malang Pagi, disebutkan bahwa kegiatan tersebut terlaksana atas kerjasama FISIP Universitas Brawijaya Malang (UB), Konrad Adenauer Stiftung (KAS), dan Yayasan Perspektif Baru.
“Sangat berbahaya, jika mahasiswa atau siswa memasuki masalah secara setengah-setengah. Lebih baik secara ilmiah, dengan melibatkan sejumlah ahli yang ada di sekitar kita. Seperti ahli yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) misalnya. Atau bisa juga dari teman-teman di organisasi, seperti KAS,” tutur Wimar.
Mantan juru bicara Presiden Abdurrahman Wahid itu menambahkan, jika ingin mengambil perspektif, maka ada dua masalah yang sangat penting. Pertama, terkait nasib kita hari ini dan besok (jangka pendek), yaitu masalah pandemi Covid-19, kita harus menyikapinya karena ada protokol kesehatan.
“Selain itu, ada jangka menengah dan panjang. Yaitu masalah perubahan iklim yang tanpa disadari sudah meningkatkan suhu bumi, serta meningkatkan frekuensi badai di laut dan mencairnya gunung es,” ujar penggemar berat klub sepakbola Arsenal itu.
“Sekarang timbul pertanyaan. Apakah Covid-19 berhubungan dengan perubahan iklim? Hal ini belum pernah dipelajari tetapi ada siklusnya, yaitu siklus pandemi. Ada yang 100 tahun atau 50 tahun. Mungkin sekarang siklus 100 tahun, karena pandemi terakhir terjadi pada 1918-1920,” imbuh Wimar.
Dikemukakannya, generasi muda bisa sibuk mempelajari dan berdiskusi mengenai perubahan iklim ini. Tidak usah sibuk demo. Demo bagus, tetapi sayang jika sumber daya digunakan untuk demontrasi yang tidak jelas.
“Jadi, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan generasi muda. Tidak usah mempelajari keilmiahannya, tetapi mengerti apa yang sudah dikerjakan orang lain. Mahasiswa tidak perlu mencari tahu sendiri, tetapi harus mengerti dan dapat menjalankannya. Berbeda dengan pandemi, yang hanya menjalankan protokol kesehatannya saja,” tutup pria 75 tahun itu.
Editor : MA Setiawan