
KAB. MALANG – malangpagi.com
Perhelatan akbar penutupan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) IX Jawa Timur di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Sabtu (5/7/2025), memang berhasil memukau ribuan penonton dengan pertunjukan megah. Namun, di balik gemerlap cahaya dan gemuruh sorak-sorai, muncul berbagai keluhan yang dilayangkan oleh peserta, pembina, hingga penonton lewat media sosial.
Kritik keras tertuju pada minimnya koordinasi panitia penyelenggara yang dianggap abai terhadap kenyamanan dan kebutuhan para pengisi acara, khususnya anak-anak. Sejumlah unggahan viral menunjukkan bahwa gemerlap panggung tak selaras dengan kondisi di balik layar.
Salah satu kritik datang dari akun Instagram @cindiigrizzellaa, yang dibagikan ulang oleh akun @malangraya_info. Ia menyuarakan kegelisahan para penari topeng bapang, dimana anak-anak yang sudah bersiap sejak pukul 16.00 WIB namun baru tampil empat jam kemudian tanpa disediakan konsumsi yang layak.
“Kalau mereka kehausan, jangan cuma ditawari, langsung disodorkan minum,” tulisnya.
Ia juga menilai pemilihan tari topeng sebagai pembuka dan penutup acara cukup membebani anak-anak, mengingat napas mereka harus ditahan di balik topeng dalam kondisi lelah.
Cindi juga mengkritik komunikasi panitia yang dinilai sangat buruk. Dikatakannya, informasi gladi resik dan teknis pertunjukan baru dibagikan mendekati hari-H.
“Musik saja belum jelas, 4 menit atau 6 menit, anak-anak dipaksa hafal dalam waktu singkat. Guru pembina pun terbatas waktu karena jarak rumah ke sekolah yang jauh,” ungkapnya.
Keluhan lain datang dari @ikromzzzzzt yang menulis singkat namun lugas. “Wah parah sih… panitia harus tanggung jawab… Ramaikan ini,” katanya.
Komentar serupa juga diungkapkan oleh @frista5900 yang menilai penyelenggaraan acara ini terlalu instan dan terkesan dipaksakan.
Aspek spiritual pun tak luput dari sorotan. Akun @sifak_al menyesalkan tidak adanya waktu untuk menjalankan ibadah salat bagi ribuan anak yang terlibat. “Acara ini membuat 3.000 anak meninggalkan kewajibannya,” tulisnya.
Tak hanya itu, pencahayaan juga menjadi sasaran kritik. @steven_1love menyebut lighting acara “peteng payah”.
“Tarian kolosal bagus padahal, tapi lighting-nya kurang. Tangga panggung pun baru dipasang saat acara sudah mulai,” ungkapnya.
Cerita miris lainnya datang dari akun @deviewidya713, yang menyebutkan bagaimana anak-anak SD kelas 2 harus berlari-lari ke belakang panggung dalam kondisi kelelahan namun tetap bersemangat tampil.
Namun di tengah kritik, ada pula suara apresiatif seperti tang dituliskan oleh akun @sismalaharningtyas. Ia menyoroti sisi positif dalam pelibatan budaya lokal, meskipun teknis pelaksanaan masih jauh dari ideal.
“Nah gini dong, ini baru keren. Melestarikan budaya Indonesia. Bukan sound horeg yang dilestarikan,” ujarnya.
Rangkaian kritik ini bukan sekadar keluhan, tapi cermin kepedulian masyarakat terhadap penyelenggaraan acara besar yang seharusnya memuliakan semua pihak yang terlibat, terutama anak-anak. Mereka bukan hanya pengisi panggung, tetapi wajah masa depan yang layak dihormati dan dilindungi. (YD)