Malang Pagi
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • OPINI
  • GAYA HIDUP
  • BERITA DUKA
  • KRIMINAL
  • PENDIDIKAN
No Result
View All Result
Malang Pagi

Algo Sapiens Mulai Menggeser Homo Sapiens, Saat Manusia Tak Lagi Sadar Pilihan Hidupnya Dibentuk Algoritma

Perkembangan teknologi membuat manusia semakin menyerahkan proses tersebut kepada sistem digital.

by RedMP.
30 September 2026
in Nasional, Opini
Bagikan Berita

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat. (Foto: Istimewa)

MALANG – malangpagi.com

Perkembangan teknologi digital yang semula diciptakan untuk memudahkan kehidupan manusia kini menghadirkan paradoks baru. Mesin pintar yang awalnya menjadi alat bantu manusia perlahan justru berpotensi mengarahkan cara manusia berpikir, memilih hingga menentukan perilakunya.

Fenomena tersebut menjadi perhatian Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat melalui gagasannya tentang “Algo Sapiens”, sebuah istilah yang menggambarkan manusia yang masih memiliki tubuh, emosi dan kehidupan sosial seperti biasa, tetapi semakin banyak keputusan hidupnya dibentuk oleh algoritma.

Komaruddin menjelaskan, manusia pada awalnya menciptakan algoritma untuk membantu menganalisis berbagai persoalan dan mengambil keputusan. Namun, perkembangan teknologi membuat manusia semakin menyerahkan proses tersebut kepada sistem digital.

“Manusia menciptakan kecerdasan buatan untuk membantu kinerja otak dan pikiran, tetapi lama-lama kecerdasan buatan itu yang menjadi sandaran menggantikan kinerja otak dan pikiran kita,” gagas Komaruddin.

Baca Juga :

Bukan Sekadar Bermain, Begini Cara Orang Tua Membaca Potensi Anak Sejak Dini

Bukan Sekadar Bermain, Begini Cara Orang Tua Membaca Potensi Anak Sejak Dini

30 September 2026
Malang Super Fight 27 Kembali Naik Ring, Bidik Bibit Atlet Porprov 2027

Batas Usia U-25 Jadi Peluang Emas, Pertina Kota Malang Siapkan Generasi Baru untuk Porprov Jatim 2027

28 September 2026
Malang Super Fight 27 Kembali Naik Ring, Bidik Bibit Atlet Porprov 2027

Malang Super Fight 27 Kembali Naik Ring, Bidik Bibit Atlet Porprov 2027

27 September 2026
Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

25 September 2026
Dugaan Kekerasan Terhadap Siswa, Kepala SMPN 18 Malang Dilaporkan ke Polisi

Dugaan Kekerasan Terhadap Siswa, Kepala SMPN 18 Malang Dilaporkan ke Polisi

25 September 2026
Load More

Menurutnya, algo sapiens bukanlah manusia yang berubah menjadi robot. Mereka tetap manusia dengan tubuh biologis, emosi, keinginan, agama, keluarga dan kehidupan sosial.

Persoalannya terletak pada cara berpikir dan kebiasaan yang semakin dipengaruhi algoritma. Apa yang dibaca, ditonton, dibeli, hingga berita yang dipercaya dapat semakin ditentukan oleh sistem rekomendasi digital.

Kondisi tersebut membuat manusia tetap merasa memiliki kebebasan, meskipun ruang pilihannya secara perlahan telah dibentuk oleh sistem.

Kekuasaan Baru Tanpa Perintah

Komaruddin melihat teknologi digital menghadirkan bentuk kekuasaan yang berbeda dengan kekuasaan konvensional. Jika kekuasaan lama bekerja melalui perintah, teknologi digital bekerja melalui bujuk rayu dan rekomendasi.

Bukan lagi sekadar mengatakan “lakukan ini atau itu”, sistem digital seolah mengatakan bahwa dirinya mengetahui apa yang diinginkan manusia dan menawarkan pilihan yang dianggap paling sesuai.

Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Shoshana Zuboff dalam bukunya The Age of Surveillance Capitalism (2018). Zuboff menjelaskan bagaimana pengalaman manusia dapat dikumpulkan menjadi data perilaku, kemudian diolah untuk memprediksi tindakan seseorang.

Jejak digital tersebut muncul dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Mulai dari pencarian di internet, penggunaan media sosial, pergerakan melalui telepon pintar, transaksi daring, tontonan video hingga interaksi dengan perangkat digital.

Bahkan, berhenti beberapa detik lebih lama pada sebuah gambar dapat menjadi bagian dari data yang membantu sistem membaca pola perilaku seseorang.

Semakin banyak data dikumpulkan, semakin besar kemampuan sistem dalam membaca pola sekaligus memprediksi perilaku manusia.

Menurut gagasan Zuboff, proses tersebut dapat bergerak dari pengawasan menuju prediksi, kemudian intervensi dan akhirnya perubahan perilaku.

Artinya, algoritma tidak hanya membaca apa yang dilakukan manusia. Dalam perkembangannya, sistem juga dapat membentuk lingkungan yang mendorong manusia melakukan sesuatu yang lebih mudah diprediksi.

Ketika Pikiran Manusia Terancam Kehilangan Otonomi

Persoalan tersebut kemudian masuk lebih jauh ke wilayah kebebasan berpikir.

Franklin Foer dalam World Without Mind (2017) menyoroti bagaimana perusahaan teknologi besar telah mengubah cara manusia memperoleh informasi dan membentuk pikirannya.

Algoritma dapat mendorong manusia menuju keseragaman, mempersempit pengalaman informasi dan mengurangi ruang untuk melakukan kontemplasi secara mandiri.

Seseorang mungkin merasa bebas memilih informasi, video, produk maupun tempat yang ingin dikunjungi. Namun, pilihan yang muncul di hadapannya telah melewati proses seleksi sistem berdasarkan rekam jejak perilaku sebelumnya.

Persoalannya bukan hilangnya kemampuan manusia untuk memilih, melainkan semakin kaburnya kesadaran mengenai siapa yang membentuk dan menyediakan ruang pilihan tersebut.

Ketika seseorang membuka internet untuk mencari informasi, misalnya, urutan informasi yang muncul telah ditentukan oleh sistem. Begitu pula ketika memilih video, rekomendasi yang muncul merupakan hasil pembelajaran algoritma terhadap kebiasaan pengguna.

Dengan kondisi tersebut, manusia tetap memilih, tetapi medan pilihannya telah terlebih dahulu disusun.

Penjara Baru Tanpa Jeruji

Komaruddin menggambarkan situasi tersebut sebagai bentuk kekuasaan baru yang menyerupai “penjara tanpa jeruji”.

Penjara algoritmik tidak membutuhkan tembok, pintu besi maupun penjaga. Kekuasaan bekerja dengan mengatur lingkungan pilihan dan menyodorkan objek yang dianggap sesuai dengan kebutuhan serta rekam jejak seseorang.

Manusia masih bisa memilih apa yang ingin dibaca. Namun, bacaan yang muncul pertama kali telah dipengaruhi sistem rekomendasi.

Manusia masih bisa memilih video yang ingin ditonton. Tetapi daftar tontonan yang tersedia telah dipelajari dari perilaku sebelumnya.

Dalam kondisi seperti itu, kebebasan tidak selalu hilang secara terang-terangan. Sebaliknya, manusia dapat tetap merasa bebas karena mekanisme yang memengaruhi pilihannya bekerja secara halus dan nyaris tidak terlihat.

Teknologi Canggih, Manusia Makin Cemas

Kemajuan teknologi juga tidak serta-merta menghilangkan kecemasan manusia.

Komaruddin mengaitkan persoalan tersebut dengan pemikiran Han Byung-chul dalam The Anxious Society. Masyarakat modern tetap menghadapi kecemasan berupa ketakutan gagal, tertinggal, kehilangan masa depan hingga kehilangan kemampuan mengendalikan kehidupannya sendiri.

Jika pemikiran Zuboff, Foer dan Han Byung-chul ditempatkan secara berdampingan, muncul satu persoalan besar mengenai posisi manusia di tengah perkembangan teknologi.

Zuboff menggambarkan bagaimana manusia semakin dipantau dan datanya dikumpulkan. Foer mengingatkan mengenai ancaman terhadap otonomi pikiran. Sementara Han Byung-chul melihat manusia modern sebagai masyarakat yang semakin diliputi kecemasan dan kesepian.

Ketiganya membawa persoalan pada pertanyaan mendasar: apa yang terjadi ketika manusia semakin kehilangan kemampuan untuk mengendalikan hidupnya sendiri?

Jangan Sampai Homo Sapiens Kehilangan Daya Pikir

Kemudahan teknologi memang membuat manusia semakin cepat mendapatkan informasi. Namun, di saat yang sama, manusia menghadapi kesulitan membedakan informasi yang benar-benar dicari dengan informasi yang terus-menerus disodorkan oleh algoritma.

Kemudahan tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan dan pada tahap tertentu menjadi ketergantungan.

Jika seluruh proses mencari, mengingat, menganalisis hingga menentukan pilihan semakin diserahkan kepada mesin, kemampuan manusia untuk melakukan proses tersebut secara mandiri berpotensi berkurang.

Daya ingat tidak lagi terlatih. Kemampuan menganalisis dapat menjadi tumpul. Bahkan pengalaman melakukan kesalahan dan belajar dari pilihan yang keliru berpotensi semakin berkurang.

Padahal, manusia justru berkembang karena mampu bertanya, mengalami kesalahan, mencari jawaban, merenung dan mempertanggungjawabkan pilihannya.

Di sinilah persoalan algo sapiens menjadi lebih dari sekadar persoalan teknologi.

Kecerdasan buatan dapat memiliki kemampuan memproses informasi yang semakin tinggi. Namun, kecerdasan tidak otomatis berarti kebijaksanaan.

Algoritma bekerja berdasarkan pola dan rekam jejak masa lalu untuk memprediksi kemungkinan masa depan. Sementara manusia memiliki kemampuan untuk memutus pola tersebut, mengubah pilihan dan menentukan jalan hidup baru.

Manusia mengenal pertobatan, keraguan, harapan, empati dan kemampuan membayangkan masa depan yang berbeda.

Karena itu, tantangan terbesar era algoritma bukan semata-mata bagaimana membuat mesin semakin cerdas. Tantangan yang jauh lebih mendasar adalah bagaimana memastikan manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berpikir, meragukan, memilih dan bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

Sebab, ketika manusia menyerahkan terlalu banyak proses berpikir kepada mesin cerdas, pertanyaan yang muncul bukan lagi seberapa pintar teknologinya, melainkan siapa yang sebenarnya menjadi subjek dalam menentukan arah kehidupan manusia. (*/YD)


Bagikan Berita
ADVERTISEMENT

Related Posts

Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

Kota Malang Satu-satunya Pemda di Indonesia yang Juarai IHYA 2026

25 September 2026

...

HPN 2027, PWI dan JMSI Dorong Pers Makin Profesional dan Berani Lawan Hoaks

HPN 2027, PWI dan JMSI Dorong Pers Makin Profesional dan Berani Lawan Hoaks

25 September 2026

...

Malang Pecahkan Rekor MURI BHD, 4.028 Orang Serentak Belajar Selamatkan Nyawa

Malang Pecahkan Rekor MURI BHD, 4.028 Orang Serentak Belajar Selamatkan Nyawa

19 September 2026

...

Peran Ganda Guru Perempuan Jadi Sorotan, Ubaya dan Al-Ya’lu Dorong Ekosistem Pendidikan yang Lebih Sehat

Peran Ganda Guru Perempuan Jadi Sorotan, Ubaya dan Al-Ya’lu Dorong Ekosistem Pendidikan yang Lebih Sehat

14 September 2026

...

Bappenas Gandeng Dewan Pers, Ekosistem Media Nasional Masuk Agenda Prioritas RPJMN

Bappenas Gandeng Dewan Pers, Ekosistem Media Nasional Masuk Agenda Prioritas RPJMN

6 September 2026

...

KKN UMBY Ajak Ibu-Ibu Plaosan Kenali Tanda Kelelahan dan Kelola Stres

KKN UMBY Ajak Ibu-Ibu Plaosan Kenali Tanda Kelelahan dan Kelola Stres

15 Agustus 2026

...

Kemendukbangga/BKKBN Jatim Luncurkan Program GENTING pada Puncak Harganas ke-33 di Kabupaten Malang

Kemendukbangga/BKKBN Jatim Luncurkan Program GENTING pada Puncak Harganas ke-33 di Kabupaten Malang

29 Juli 2026

...

Load More
ADVERTISEMENT
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber
  • Redaksi

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERITA
  • MALANG RAYA
  • EKONOMI BISNIS
  • OLAHRAGA
  • OTOMOTIF
  • GAYA HIDUP

©2018 Malang Pagi. Hak cipta dilindungi undang-undang.

× Chat Admin