
MALANG – malangpagi.com
Film komedi horor Piye To Kih? menjadi langkah baru bagi para kreator Woko Channel untuk melebarkan sayap dari platform YouTube ke layar lebar. Menggandeng sejumlah aktor nasional, film garapan sutradara Ito Mavin tersebut mengusung cerita komedi horor dengan pesan tentang pentingnya memantaskan diri.
Kota Malang menjadi kota ke-14 dari total 17 kota dalam rangkaian roadshow promosi film tersebut. Kehadiran para pemain, di antaranya Heri Chandra yang berperan sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma, disambut antusiasme penonton dalam agenda meet and greet, di Kota Malang, pada Rabu (4/11/2026).
Heri Chandra mengungkapkan, keterlibatan dirinya bersama Woko Channel dalam film ini berawal dari tawaran langsung Woko selaku sutradara sekaligus sosok di balik kanal YouTube tersebut.
Namun, tawaran bermain film layar lebar sempat membuatnya ragu. Pasalnya, pengalaman tersebut menjadi hal baru baginya setelah selama ini lebih banyak berkecimpung di dunia konten YouTube.
“Pertama kali ditawari itu dari Mas Woko. Awalnya takut karena sebelumnya belum pernah main film. Saya diberi waktu satu bulan untuk berpikir,” ungkap Heri.
Sebelum masa pertimbangan tersebut berakhir, Heri kemudian menerima naskah dari Ito Mavin. Setelah membaca keseluruhan cerita, ia justru tertarik untuk mengambil bagian dalam proyek film tersebut.
“Yang jelas dari ide ceritanya. Ceritanya sangat mengena,” tuturnya.
Heri mengakui, salah satu tantangan terbesar saat menjalani proses produksi adalah perbedaan skala kru antara produksi konten YouTube dengan film layar lebar.
Jika produksi YouTube biasanya hanya melibatkan sekitar lima hingga tujuh orang, produksi Piye To Kih? melibatkan hampir 100 orang, bahkan lebih.
Untuk mengatasi kecanggungan tersebut, Heri memilih membangun komunikasi dengan seluruh kru melalui obrolan santai agar suasana produksi lebih akrab dan dirinya bisa beradaptasi.
“Sering ngobrol, sok kenal supaya terbiasa dan lebih rileks. Cara menanganinya seperti itu,” jelasnya.
Ia juga menyebut, Piye To Kih? menjadi pengalaman sekaligus film layar lebar pertamanya bersama Woko Channel.
Sementara itu, Dara Sarasvati yang memerankan karakter Sukma menyebut tantangan utama dalam film ini terletak pada penggambaran karakter. Meski memiliki pembawaan yang hampir serupa dengan peran sebelumnya, kali ini ia harus memerankan sosok entitas atau hantu.
Menurutnya, karakter Sukma memiliki kepribadian perempuan yang tegas tetapi tetap lembut. Hal tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan karakter yang pernah ia mainkan sebelumnya.
Namun, perbedaan mendasar terletak pada gestur dan cara berdialog karena karakter yang diperankannya bukan manusia.
“Kalau dari sisi pembawaan sebenarnya hampir mirip dengan karakter saya sebelumnya. Sama-sama perempuan yang tegas tetapi lembut. Cuma yang membedakan, kalau dulu manusia, sekarang entitas atau hantu,” kata Dara.
Untuk mendalami peran tersebut, Dara menjalani persiapan sekitar tiga minggu. Prosesnya juga didampingi acting coach, mulai dari diskusi hingga mempelajari berbagai referensi agar karakter Sukma dapat tergambarkan sesuai kebutuhan cerita.
Terkait penggunaan bahasa Jawa, Dara mengaku tidak mengalami kendala berarti karena dirinya berasal dari Sidoarjo sehingga cukup familiar dengan bahasa tersebut.
“Untuk penggunaan bahasa Jawa sebenarnya tidak ada kendala, karena saya asli Sidoarjo dan sudah cukup familiar dengan bahasa Jawa,” ujar Dara.
Antusiasme roadshow di Malang juga mendapat respons positif dari Dara. Ia mengaku senang bisa kembali mengunjungi sejumlah kawasan di Malang Raya setelah cukup lama tidak berkunjung ke Jawa Timur.
Ia bahkan menyebut kunjungan tersebut terasa seperti pulang kampung karena memiliki sejumlah kenangan di kawasan Suhat, Dinoyo, hingga Batu, termasuk Museum Angkut.
“Senang banget dan bangga juga film lokal Jawa Timur bisa diangkat menjadi karya film nasional. Harapannya, ke depan Malang juga bisa punya karya yang diangkat menjadi film nasional,” ujar Dara.
Di sisi lain, sutradara Piye To Kih?, Ito Mavin menjelaskan, Malang merupakan kota ke-14 dalam rangkaian roadshow yang menyambangi 17 kota.
Setelah rangkaian promosi tersebut, film ini dijadwalkan menggelar home premiere di Kediri pada 6 November 2026. Selanjutnya, Gala Premiere akan berlangsung di Jakarta pada 12 November 2026, dan bakal tayang serentak di Bioskop Indonesia pada 19 November 2026.

Ito menjelaskan, pemilihan Kediri sebagai lokasi home premiere bukan tanpa alasan. Kota tersebut memiliki kedekatan historis dengan perjalanan Woko Channel yang selama ini tumbuh dan membangun basis penontonnya.
Ia ingin memberikan persembahan khusus kepada para penggemar yang telah mengikuti perjalanan Woko Channel sejak awal hingga berkembang seperti sekarang.
“Sejak awal saya mengajak Woko Channel berkolaborasi untuk memberikan persembahan istimewa kepada audiens yang sudah loyal dan menemani mereka dari nol. Kami memilih Kediri karena roh mereka ada di sana,” jelas Ito.
Meski berangkat dari popularitas Woko Channel di YouTube, Ito menegaskan film ini tidak hanya ditujukan bagi penggemar kanal tersebut.
Karena itu, ia menggabungkan lima pemain Woko Channel, yakni Mukidi, Penyok, Gendut, Pak No, dan Mbak Mintul, dengan sejumlah aktor yang telah memiliki pengalaman di industri perfilman nasional, termasuk Dara Sarasvati, Lorenzo, Gabriel Desta, dan sejumlah pemain lainnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan penonton sekaligus membawa karakter khas Woko Channel ke medium perfilman nasional.
Mengenai ide cerita, Ito mengaku proses kreatif film ini bermula dari pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Setelah menentukan pesan, ia kemudian memikirkan siapa audiens yang menjadi sasaran serta pendekatan cerita yang tepat untuk menyampaikannya.
Menurutnya, judul dan premis menjadi pintu masuk penting agar penonton tertarik menyaksikan film tersebut sebelum akhirnya memahami pesan yang ingin disampaikan.
“Premisnya harus unik supaya menjadi pintu masuk bagi orang untuk menerima pesan besar dari film ini, yaitu tentang memantaskan diri,” terangnya. (YD)













