
KOTA MALANG – malangpagi.com
Bertempat di Museum Mpu Purwa Kota Malang, Rabu (14/9/2022), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang menggelar Forum Grup Discussion 800 Tahun Singhasari, dengan menghadirkan pemateri anggota Komisi D DPRD Kota Malang Suryadi, Kepala Bidang Cagar Budaya Dikbud Jawa Timur Dwi Supranto, serta sejarawan dan arkeolog Malang Dwi Cahyono.
Pada FGD 800 Singhasari yang kedua kalinya digelar di Kota Malang, Dwi Supranto menyampaikan gagasannya untuk mengangkat nilai-nilai filosofis dari peninggalan kerajaan Singhasari. Seperti cerita tang terdapat pada relief Candi Jago, Candi Kidal, serta Candi Jawi. Menurutnya, pada relief-relief tersebut terkandung pelajaran tentang toleransi dan kebhinnekaan.
“Pada Mei lalu, Disbudpar Jatim telah mengawali kajian dan FGD Singhasari, dan mendorong Malang Raya untuk membuat festival, seperti Kota Batu dengan Festival Arjunawiwaha atau Kabupaten Bitar dengan Festival Kresnayana. Kalo begitu, apa festival yang akan diusung oleh Kota Kabupaten Malang? Hal ini kan pernah dikaji oleh Ki Demang, Rakai Hino, serta Deny Yudho saat menjadi narasumber beberapa waktu lalu,” sebut Dwi, yang juga selaku Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jatim.
Tantangan tersebut serta merta disambut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Suwarjana, dengan menegaskan akan menyelenggarkan Festival Singhasari Bangkit pada tahun depan. “Monggo yang hadir di FGD ini turut mendukung Festival Singhasari Bangkit, yang penyelenggaraan dapat dibarengkan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas),” tuturnya.
Di kesempatan yang sama, Dwi Cahyono, yang pernah membedah Singhasari dari Kitab Pararaton menuturkan bahwa kejayaan Singhasari dapat menjadi inspirasi untuk membangkitkan potensi, berdasarkan toponimi desa-desa yang disebut dalam Kitab Pararaton. Seperti Karuman, Kebalen, Petantangan, Kapundungan, Ponowijen, dan Kuthorojo.
“Sudah barang tentu aspek kesejarahan dan warisan lokal dapat ditampilkan dalam membangkitkan kejayaan Singhasari. Selain itu, cerita yang ada dalam relief candi pun dapat dikemas menjadi sebuah sendratari dan ditampilkan dalam festival, karnaval, maupun gelar seni budaya,” terang pria yang pernah menjadi anggota TACB Kota Malang itu.
Sementara itu, anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Suryadi, lebih menyoroti terkait persoalan perhatian kepada benda cagar budaya. Dirinya mencontohkan Bali, di mana seluruh cagar budaya didokumentasikan dalam bentuk buku yang memuat keterangan jelas. Menurutnya, hal serupa dapat dilakukan di Kota Malang, dengan membukukan peninggalan Singhasari.
“Kajian Singhasari ini perlu didokumentasikan untuk menjadi rujukan regulasi dalam setiap kegiatan. Jadi DPRD tinggal mendorong penganggaran. Sehingga Festival Singhasari gaungnya besar, serta dapat membangkitkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” tegas pria yang juga menjadi Ketua Karang Taruna Kota Malang tersebut. (DK99/MAS)