
KOTA MALANG – malangpagi.com
Menjelang perayaan Tahun Baru 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana akibat cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kota Malang, Prayitno menyampaikan bahwa pos siaga bencana akan tetap didirikan meskipun Pos Pengamanan Natal dan Tahun Baru (Pos Pam Nataru) diperkirakan selesai beroperasi pada 1 Januari 2026.
“Jadi kami tetap mendirikan pos siaga bencana. Kami sudah konsolidasi dengan bapak-bapak camat, sifatnya nanti on call, agar di tiap kecamatan potensi yang ada di wilayah tersebut siap sewaktu-waktu,” ujar Prayitno, Rabu (31/12/3025).
Selain itu, Prayitno mengatakan bahwa pihaknya secara rutin melakukan pemantauan dan pembaruan informasi cuaca. Informasi tersebut disebarluaskan melalui platform AccuWeather yang dibagikan kepada Kelurahan Tangguh, serta berbagai komunitas kebencanaan.
“Insyaallah kalau nanti ramalan cuaca menunjukkan kondisi ekstrem, kami sudah koordinasi untuk mewaspadai wilayah-wilayah yang punya potensi bencana, terutama wilayah yang sebelumnya pernah terdampak dan berpotensi terjadi pengulangan,” jelasnya.
Prayitno juga mengungkapkan adanya peningkatan signifikan curah hujan. Berdasarkan rilis awal BMKG Nasional, kenaikan curah hujan diperkirakan mencapai 40 persen. Namun, berdasarkan Kepala BMKG Kelas II Juanda pada 4 Desember lalu curah hujan di Kota Malang justru meningkat hingga 300 persen.
“Untuk Jawa Timur, khususnya Kota Malang, pada 4 Desember kemarin curah hujannya naik 300 persen dari kondisi normal. Ini fakta di lapangan yang perlu diwaspadai,” tegasnya.
Menyikapi kondisi tersebut, BPBD meminta para camat untuk mengaktifkan pos siaga bencana di wilayah masing-masing. Secara total, terdapat lima pos siaga di tingkat kecamatan, dengan pos komando utama tetap berada di kantor BPBD Kota Malang.
“Nanti setiap ada pergerakan cuaca, Kelurahan Tangguh akan melaporkan kondisi wilayahnya. Kecamatan berkoordinasi dengan camat untuk mengaktifkan pos, dan seluruh potensi di wilayah tersebut disiapkan,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan personel dan peralatan, BPBD Kota Malang juga memperluas pelibatan relawan dan komunitas. Menurut Prayitno, keberadaan komunitas menjadi darah baru dalam memperkuat upaya mitigasi hingga tanggap bencana.
“Personel BPBD terbatas, maka relawan dan komunitas ini sangat kami apresiasi. Mulai dari mitigasi sampai tanggap bencana, harapan kami mereka bisa memperkuat organisasi kebencanaan di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Ke depan, ia menyatakan bahwa penguatan potensi kebencanaan juga akan diperluas hingga tingkat kelurahan melalui pembinaan komunitas dan pelatihan rutin BPBD.
“Berbagai potensi profesional seperti tenaga kesehatan, tim pertolongan, hingga komunitas pencarian orang akan diintegrasikan dalam sistem Kelurahan Tangguh,” tuturnya.
Sementara untuk data titik-titik rawan banjir di Kota Malang, Prayitno menyampaikan bahwa pengelolaannya berada di bawah koordinasi Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Malang, dengan melibatkan BPBD, Bappeda, serta seluruh camat.
“Data sudah kami kirimkan. Nanti biar DPUPR yang menyampaikan karena memang penggawanya persoalan banjir ada di sana,” pungkasnya. (YD)














