
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pemasangan jembatan darurat tipe Bailey di sisi selatan Jembatan Sonokembang, Kelurahan Pandanwangi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, resmi dimulai pada Minggu (9/11/2025).
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Senin (10/11/2025), sejumlah pekerja tengah merakit rangka baja jembatan, sementara alat berat seperti ekskavator digunakan untuk meratakan tanah serta menyiapkan pondasi sebelum struktur utama dipasang.
Jembatan Bailey sepanjang 30 meter dengan lebar 6 meter tersebut dibangun sebagai solusi sementara setelah jembatan lama ambruk akibat hujan deras dan meningkatnya debit air sungai. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang.
Kepala DPUPRPKP Kota Malang, Dandung Djulharjanto, menjelaskan bahwa proses perakitan diperkirakan akan berlangsung selama dua minggu.
“Seluruh material jembatan Bailey sudah tiba dari Surabaya pada Sabtu (8/11/2025) dini hari, dan hari ini kami mulai merakit struktur utamanya di lapangan,” ungkapnya.
Selama proses pemasangan, jembatan bambu yang sebelumnya dibangun secara swadaya oleh warga akan ditutup total demi menjaga keselamatan pekerja dan pengguna jalan.
“Untuk sementara, jembatan bambu tidak dapat digunakan karena menghambat proses perakitan. Setelah jembatan Bailey siap dilalui kendaraan, jembatan bambu akan kami bongkar,” jelas Dandung.
Ia menyebut, tipe Bailey dipilih karena memiliki konstruksi modular yang kuat dan mudah dibongkar pasang, sehingga sangat sesuai digunakan sebagai jembatan sementara di atas bentang sungai yang cukup lebar.
“Pemasangan jembatan Bailey ini merupakan langkah cepat agar akses dan mobilitas warga tetap terjaga, sambil menunggu pembangunan jembatan permanen,” ujarnya.
Dandung menjelaskan bahwa pihaknya mengalokasikan anggaran insidental sekitar Rp350 juta untuk proyek ini.
“Awalnya kami pertimbangkan menggunakan dana BTT (Belanja Tak Terduga), namun karena kawasan ini tidak sepenuhnya terisolasi, kriteria kedaruratannya tidak terpenuhi. Maka, kami memakai dana insidental dari anggaran dinas,” terangnya.
Dandung juga menyampaikan bahwa pembangunan jembatan permanen Sonokembang telah masuk dalam prioritas APBD 2026 dengan nilai sekitar Rp5,3 miliar. Rencananya, jembatan baru akan dibangun ulang dengan desain yang lebih kuat dan lebar.
“Pembangunan dilakukan total, bukan sekadar perbaikan. Lebar jembatan akan ditingkatkan dari 5,5 meter menjadi 7,5 meter agar dapat dilalui dua arah serta dilengkapi trotoar di kedua sisi,” paparnya.
Dandung mengimbau masyarakat untuk bersabar dan menaati rambu pembatasan akses selama proses pekerjaan berlangsung.
“Kami berharap dukungan warga. Setelah jembatan Bailey berfungsi, masyarakat tidak perlu lagi menggunakan jembatan bambu yang berisiko dan tidak aman,” pungkasnya. (YD)














