
KOTA MALANG – malangpagi.com
Pemerintah Kota (Pemkot) Malang memproyeksikan serapan tenaga kerja pada 2026 meningkat hingga 20 persen dibandingkan 2025. Dengan capaian serapan tenaga kerja pada 2025 sekitar 11.700 orang, target tahun depan diperkirakan menembus lebih dari 14 ribu tenaga kerja.
Kepala Disnaker PMPTSP Kota Malang, Arif Tri Sastyawan, menyebut proyeksi kenaikan 20 persen tersebut realistis. Hal itu sejalan dengan target peningkatan investasi yang juga dipatok naik 20 persen pada 2026.
“Pada 2025, serapan tenaga kerja sudah sekitar 11.700. Jika investasi naik 20 persen dari capaian 2025, maka serapan tenaga kerja setidaknya bisa naik dengan persentase yang sama, bahkan berpotensi lebih,” ujar Arif, Senin (2/3/2026).
Data yang dimiliki pemkot menunjukkan tren positif penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Pada 2024, TPT berada di angka 6,10 persen dan berhasil ditekan menjadi 5,69 persen pada 2025. Jika target serapan tenaga kerja 2026 terealisasi, TPT diproyeksikan kembali turun hingga sekitar 5,4 persen.
Penurunan TPT tersebut dinilai sejalan dengan meningkatnya realisasi investasi di Kota Malang. Pada 2024, investasi yang masuk mencapai Rp2,4 triliun, melampaui target Rp1,4 triliun. Sementara pada 2025, nilai investasi tumbuh menjadi Rp3,11 triliun dari target Rp3,06 triliun. Untuk 2026, dengan target kenaikan 20 persen, pemkot membidik investasi sekitar Rp3,6 triliun.
“Sektor penyumbang investasi terbesar berasal dari makanan dan minuman, mulai kafe, restoran hingga rumah makan, sekitar 45 persen. Disusul sektor properti 25 persen, dan perhotelan 20 persen,” jelas Arif.
Selain mendorong investasi, pemkot juga memastikan program bursa kerja tetap digelar pada 2026 sebagai upaya menekan angka pengangguran, meski jadwal pelaksanaannya masih dalam tahap persiapan.
Arif mengakui, pencapaian target investasi dan serapan tenaga kerja bukan tanpa tantangan. Salah satunya, pelaporan aset, permodalan, dan jumlah tenaga kerja oleh investor yang kerap baru masuk menjelang akhir tahun, sehingga realisasi investasi sering terlihat meningkat di penghujung periode.
“Kondisi seperti ini terus kami minimalkan agar proses pembangunan dan operasional usaha bisa lebih cepat berjalan, sehingga tenaga kerja dapat segera terserap,” katanya. (YD)












