
MALANG – malangpagi.com
PT Morula IVF Indonesia menggelar edukasi eksklusif bertema Mengungkap Penyebab Kegagalan Dalam Program Hamil, bertempat di Savan Hotel, Jalan Letjen Sutoyo, Kota Malang, Minggu (24/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus konsultasi mengenai berbagai persoalan kesuburan yang masih banyak belum dipahami masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai perkembangan teknologi program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF), pemahaman tentang berbagai penyebab infertilitas, hingga kisah perjuangan pasien yang berhasil memperoleh buah hati.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni dr. Maya Devi Arifiandi, Sp.OG, Subsp.FER, dr. Benediktus Arifin, MPH, Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.FER, serta dr. Achmad Rheza, Sp.OG, Subsp.FER, dengan moderator Dr. dr. I Wayan Arsana, Sp.OG, Subsp.FER.
Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG, Subsp.FER mengungkapkan, jumlah pasangan usia subur di wilayah Malang Raya diperkirakan mencapai sekitar 450 ribu pasangan. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 hingga 12 persen diperkirakan mengalami persoalan infertilitas.
“Kalau angka infertilitas itu 10 sampai 12 persen, maka ada sekitar 22.000 sampai 36.000 pasangan usia subur yang memerlukan bantuan supaya hamil,” ujarnya.
Menurutnya, masih banyak pasangan yang belum menyadari pentingnya penanganan gangguan kesuburan sejak dini. Padahal, proses penanganannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengaturan waktu hubungan suami istri, terapi obat, laparoskopi, inseminasi, hingga program bayi tabung.
“Kami hadir dari Morula untuk memberikan solusi sekaligus pencerahan bagaimana penanganan masalah kesuburan itu dilakukan,” katanya.
Prof. Budi menilai, Malang memiliki potensi besar untuk pengembangan layanan fertilitas. Pasalnya, angka kebutuhan penanganan infertilitas dinilai cukup tinggi.
“Jumlah masalah infertilitas cukup banyak, dan di Malang belum ada. Mudah-mudahan ke depan Malang yang sudah cukup besar ini bisa memiliki pusat bayi tabung,” ucapnya.
Sementara itu, dr. Benediktus Arifin, MPH., Sp.OG(K), FICS, FIICOG, FESICOG mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap kegiatan edukasi tahun ini meningkat signifikan dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
“Pesertanya hampir dua kali lipat. Bahkan melebihi kuota yang ada, sehingga kemungkinan nanti akan ada agenda lanjutan. Di kegiatan hari ini, ada ratusan pasangan dari Malang Raya yang ikut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, salah satu tantangan saat ini adalah masih adanya anggapan bahwa program memiliki anak bukan menjadi prioritas bagi sebagian pasangan muda. Di sisi lain, angka Total Fertility Rate (TFR) di sejumlah kota besar termasuk Malang justru menunjukkan tren menurun.
“TFR di Malang sekitar 1,8 sampai 1,9. Artinya rata-rata pasangan memiliki anak kurang dari dua. Ini menunjukkan semakin banyak orang yang mengalami kesulitan untuk memiliki anak,” katanya.
Selain itu, perubahan pola hidup modern juga disebut menjadi faktor yang memengaruhi tingkat kesuburan. Penundaan usia menikah, tuntutan pendidikan, kondisi ekonomi, hingga gaya hidup menjadi faktor yang berdampak terhadap penurunan fertilitas.
“Lifestyle, nutrisi, pendidikan, ekonomi, sampai keputusan menunda memiliki anak juga berpengaruh. Padahal semakin bertambah usia wanita maupun pria, angka fertilitas juga akan semakin menurun,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Morula IVF Indonesia juga memperkenalkan berbagai teknologi fertilitas terkini yang dimiliki, termasuk layanan bayi tabung dengan teknologi yang disebut telah berkembang dan setara dengan fasilitas yang digunakan di luar negeri. (YD)












