malangpagi.com
Perubahan iklim adalah isu yang selalu dibahas dari tahun ke tahun dan menjadi perhatian seluruh negara. Hingga kemudian dibentuk beberapa perjanjian antarnegara untuk mengendalikan perubahan iklim. Di antaranya Kyoto Protocol dan Paris Agreement.
Perubahan iklim adalah perubahan kondisi rata-rata bumi dan pola cuaca. Seperti perubahan suhu, intensitas hujan, dan kelembapan udara yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Sebutlah penebangan hutan, kegiatan industri, penggunaan batubara, minyak bumi, dan gas alam, yang kemudian berdampak pada kerusakan atmosfer bumi.
Perubahan tersebut sebagian besar diakibatkan oleh meningkatnya efek gas rumah kaca yang berlebihan. Antara lain tingginya tingkat karbon dioksida di udara yang semakin mempertebal lapisan atmosfer dan mengakibatkan peningkatan suhu permukaan bumi, yang biasa disebut sebagai pemanasan global.
Perubahan iklim yang terus menerus terjadi, tanpa adanya upaya untuk membuat perubahan, nantinya akan berdampak besar pada menurunnya kualitas air, hilangnya habitat alami bagi berbagai spesies binatang, dan meningkatnya penyebaran penyakit. Dampak tersebut akan dirasakan oleh seluruh manusia.
Oleh karena itu, upaya pengendalian iklim merupakan tanggungjawab seluruh penduduk bumi. Sedangkan negara memegang peran untuk mengarahkan dan bertanggungjawab, agar kesejahteraan masyarakat dapat terpenuhi, namun tidak kemudian mengabaikan kelestarian lingkungan.
Di era globalisasi yang semakin maju, teknologi telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Informasi diperoleh dengan mudah dan dari mana saja. Terlebih sejak kemunculan media sosial, di mana para penggunanya dapat saling berinteraksi, menyebarkan informasi, dan berkomunikasi dengan mudah.
Media sosial menjadi kebutuhan sebagian besar orang. Selain menjadi sarana berkomunikasi, media sosial juga dapat menjadi mata pencaharian bagi para influencer dan konten kreator.
Saat ini telah tersedia banyak sekali platform media sosial yang mudah diakses penggunanya. Mulai situs berita online, Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, hingga Tiktok. Selain itu, para pengguna tidak hanya menggunakan media sosial sebagai alat berkomunikasi, tetapi juga untuk mencari informasi dan berita, karena semua itu dapat diakses dengan cepat dan mudah.
Tah hanya itu, masyarakat juga dapat dengan bebas mengawasi dan memberikan pandangan terkait suatu kebijakan. Oleh karenanya, media sosial dinilai menjadi hal yang sangat krusial dalam kehidupan masyarakat saat ini.
Hadirnya media sosial juga turut berperan dalam upaya pengendalian perubahan iklim. Media sosial menjadi soft power sebagai penggerak perubahan, dalam menanggulangi dampak negatif dari perubahan iklim.
Pemerintah dan organisasi lingkungan terkait telah melakukan berbagai upaya seperti membuat peraturan untuk mengurangi emisi karbon, serta memaksimalkan pengembangan sumber energi alternatif dan terbarukan.
Namun hingga kini, upaya tersebut belum dapat diimplemantasikan secara maksimal. Karena tentu saja membutuhkan partisipasi aktif dari masyarakat dan sektor swasta.
Untuk itu, media sosial dapat berperan menyebarluaskan segala informasi terkait dampak negatif dari perubahan iklim, melalui video atau konten edukasi yang berhubungan dengan climate change. Sekaligus membuka persepsi masyarakat tentang penerapan kebijakan pemerintah tentang pengendalian perubahan iklim. Sehingga masyarakat tertarik untuk terlibat dalam penanganan perubahan iklim, yang dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitarnya.
Media sosial juga mempermudah pemerintah dan organisasi internasional untuk mensosialisasikan tentang program yang sedang mereka jalankan kepada masyarakat. Juga menjelaskan hal-hal yang dapat dilakukan agar dapat turut berpartisipasi dalam program pengendalian perubahan iklim.
Seperti halnya yang dilakukan akun Instagram dan Twitter @unclimatechange dan @climatereality yang memiliki ribuan pengikut baik. Keduanya mengedukasi pengikutnya lewat konten-konten informatif terkait kondisi bumi saat ini.
Di samping itu juga memaparkan hasil dari berbagai konferensi resmi yang mengangkat isu climate change, dan upaya yang dapat dilakukan guna mempercepat pengendalian. Tidak sedikit pula masyarakat yang menuliskan pendapat dan aspirasi mereka mereka di kolom komentar, terkait permasalahan perubahan iklim.
Hal tersebut menjadi bukti bahwa media sosial menjadi platform yang efektif untuk memsosialisasikan dan mengampanyekan isu perubahan iklim. Terlebih media sosial dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik di dalam maupun ke luar negeri.
Kesimpulannya, banyak sekali manfaat dalam memanfaatkan media sosial sebagai alat untuk mendorong pengendalian perubahan iklim. Namun upaya tersebut tetap memerlukan pengawasan, terutama terhadap informasi yang beredar. Karena tak sedikit oknum yang menyebarkan berita hoaks, maupun kesalalahan informasi yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.
Penulis: Nabila Ima Mitha, mahasiswi Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang